PEKALONGAN — Team Leader PMU Kemitraan Indonesia, Arief Mahmudi, menyebut pengembangan ekowisata di dua kawasan tersebut diarahkan agar pengunjung dapat mengenal mangrove lebih dekat sekaligus memahami manfaatnya bagi lingkungan.
Konsep eduwisata menjadi agenda utama. Pengunjung diajak menyusuri kawasan, mengenal berbagai jenis mangrove, dan memahami keterkaitannya dengan perlindungan wilayah pesisir.
Arief menjelaskan, wisatawan tidak hanya menikmati suasana pesisir. Mereka juga mendapat informasi dan edukasi selama berada di kawasan.
"Agenda besar kami untuk pengembangan ekowisata di kawasan Pekalongan Mangrove Park ini ada eduwisata. Jadi orang diajak wisata sekaligus melihat-lihat sekitar sambil mendapatkan informasi dan edukasi, misalnya tentang bahaya rob, bagaimana menjaga lingkungan, dan pentingnya mangrove ditanam," ujar Arief saat ditemui di sela-sela Simulasi Pembukaan Resto Apung PMP, Senin (5/10/2026).
Edukasi diperkuat dengan pengenalan silvofishery. Lewat konsep itu, masyarakat bisa melihat bagaimana ekosistem mangrove berjalan berdampingan dengan aktivitas perikanan.
Jumlah mangrove di kawasan PMP masih terbatas. Arief menyatakan pengembangannya terus diupayakan.
"Di sini kita memang mempertahankan Pekalongan Mangrove Park. Mangrovenya memang belum banyak, tetapi ada upaya untuk terus mengembangkannya," jelasnya.
Penanaman mangrove bersama-sama akan didorong menjadi aktivitas rutin. Kegiatan itu diharapkan menumbuhkan kepedulian sekaligus rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan.
"Selain wisata dan edukasi, kegiatan penanaman mangrove secara bersama-sama juga akan didorong menjadi aktivitas rutin. Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kepedulian sekaligus rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan mangrove," paparnya.
Pengembangan ekowisata dilakukan di dua kawasan, yakni Kandang Panjang dan Degayu. Pembangunan fisik maupun non-fisik eduwisata mangrove di dua wilayah tersebut menelan sekitar Rp 5 miliar.
Kedua kawasan itu diharapkan menjadi ruang belajar sekaligus aktivitas ekonomi baru bagi warga sekitar. Masyarakat setempat juga didorong mengelola kawasan agar menjadi alternatif mata pencaharian.
"Masyarakat sekitar juga kami dorong untuk mengelola kawasan ini, sehingga bisa menjadi salah satu alternatif mata pencaharian. Kami juga menggandeng UMKM lokal dan kelompok masyarakat yang selama ini kami dampingi," katanya.
Pengembangan kawasan dapat dipadukan dengan wisata air, kegiatan penanaman, event lingkungan, hingga aktivitas edukatif lain. Wisatawan pun tidak hanya menikmati suasana pesisir, tetapi juga memahami fungsi mangrove.
Arief menambahkan, PMP dan Degayu ke depan diharapkan berkembang sebagai destinasi eduwisata mangrove yang mempertemukan konservasi, edukasi, rekreasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kawasan.
"Ke depan, PMP dan Degayu diharapkan berkembang sebagai destinasi eduwisata mangrove yang mampu mempertemukan konservasi, edukasi, rekreasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam satu kawasan. Upaya tersebut sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir Kota Pekalongan," tukasnya.