JAWA TENGAH — Tokoh masyarakat Lingga, Muhammad Ishak, mengusulkan Festival Gunung Daik Becabang Tiga (GDBT) menjadi agenda tahunan berskala nasional di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau. Usulan muncul setelah rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Kecamatan Lingga berlangsung sebulan penuh tanpa dukungan APBD. Festival ini digadang menjadi magnet wisata budaya dan ekowisata dengan Gunung Daik sebagai ikon utama.
Ishak menilai rangkaian kegiatan di Daik dan sekitarnya berhasil menghibur warga sekaligus membuka ruang bagi penggiat seni untuk kembali berkarya setelah masa sepi. Menurutnya, suksesnya acara tanpa anggaran daerah membuktikan kepemimpinan yang tanggap dan kooperatif mampu memberi dampak positif, termasuk bagi pelaku UKM.
"Masyarakat merasa terhibur dan berterima kasih. Bagi penggiat seni, adanya 'ruang' untuk tampil seolah membakar semangat dan menyuntikkan 'darah baru' untuk berkreasi kembali," ujar Ishak, Minggu (4/10/2026).
Lima Alasan Gunung Daik Layak Jadi Ikon Festival
Ishak memaparkan sejumlah alasan mengapa Festival GDBT dinilai layak digelar setiap tahun. Legenda Gunung Daik yang sudah mendunia disebutnya sebagai magnet kuat bagi wisatawan.
- Legenda Gunung Daik yang telah mendunia dan populer di media sosial
- Minat pendakian atau tracking Gunung Daik yang semakin tinggi
- Cerita rakyat patahnya Gunung Daik yang viral di jagat maya
- Fungsi hutan lindung Gunung Daik sebagai paru-paru kehidupan
- Fasilitas pendukung di kawasan Damnah yang sudah tersedia
Fasilitas Pendukung di Kawasan Damnah
Kawasan Damnah disebut Ishak memiliki sejumlah fasilitas yang bisa menopang gelaran festival. Di antaranya Replika Istana Damnah, Dataran Sultan Abdurrahman Syah, Museum Linggam Cahaya, Balai Adat Melayu, dan Rumah Tenun.
Untuk pelaksanaan awal, Ishak menyarankan festival memanfaatkan momen budaya yang sudah hidup di masyarakat. Misalnya peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul Jama' yang bisa dipusatkan di Replika Istana Damnah.
Warisan Budaya Tak Benda Jadi Daya Tarik
Festival ini dirancang menampilkan berbagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Lingga yang telah diakui tingkat nasional. Pengunjung tidak hanya menonton, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam pembuatan kerajinan dan menikmati kuliner khas Melayu.
Salah satu daya tarik yang ditawarkan adalah prosesi adat perkawinan tradisional Melayu Daik Lingga di Balai Adat Melayu. Uniknya, biaya prosesi adat ini berasal dari masyarakat yang memiliki hajat, namun dikoordinir oleh Lembaga Adat Melayu (LAM) dan OPD terkait.
Aspek Konservasi dan Dukungan Kementerian
Ishak menekankan aspek konservasi harus menjadi bagian penting festival. Ia mengusulkan mengundang kementerian terkait seperti KLHK, Kemenparekraf, dan Bappenas untuk melakukan focus group discussion (FGD).
"Tujuannya bukan sekadar meramaikan, tetapi mencari strategi mendapatkan dana konservasi dan anggaran pembangunan ekowisata," tambah Ishak.
Butuh Koordinasi Antar-OPD
Meski ide ini bermula dari modifikasi kegiatan tingkat kecamatan, Ishak menilai skala potensinya terlalu besar jika hanya diserahkan kembali ke pihak kecamatan. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan meningkatkan komitmen, sinergitas, dan integrasi tugas fungsi antar-OPD.
"Kerja besar yang berpotensi menjadi event tahunan daerah membutuhkan koordinasi yang kuat. Bagaimana cara mengintegrasikan tugas fungsi OPD terkait agar event ini lancar dan sukses adalah hal yang sangat krusial ke depannya," pungkas Ishak.
Jika terealisasi, Festival GDBT berpeluang menempatkan Kabupaten Lingga sebagai destinasi wisata budaya dan ekowisata unggulan di Indonesia. Wisatawan yang tertarik menyaksikan prosesi adat, menelusuri jejak legenda Gunung Daik, atau menikmati kuliner Melayu bisa memantau jadwal resmi melalui dinas pariwisata setempat.