Activision resmi mengonfirmasi bahwa gim Call of Duty berikutnya tidak akan dikembangkan untuk konsol PlayStation 4. Keputusan ini menandai berakhirnya era dukungan lintas generasi bagi franchise tersebut sejak pertama kali dimulai pada 2013. Langkah strategis ini memaksa basis pemain global untuk segera beralih ke perangkat generasi terbaru.
Spekulasi mengenai kehadiran judul terbaru Call of Duty di platform PlayStation 4 (PS4) akhirnya menemui titik terang. Melalui pernyataan resmi di media sosial pada 4 Mei 2026, Activision membantah rumor yang menyebutkan bahwa gim tersebut tengah menjalani proses uji coba untuk konsol generasi kedelapan milik Sony tersebut.
Pernyataan ini sekaligus mengakhiri tradisi panjang seri Call of Duty yang selama ini selalu berusaha merangkul pemain di dua generasi konsol sekaligus. Sejak peluncuran Call of Duty: Ghosts pada 2013, Activision konsisten merilis judul tahunan mereka baik untuk konsol lama maupun baru guna menjaga basis pemain tetap luas.
"Tidak yakin dari mana asal (rumor) ini, tapi itu tidak benar," tulis akun resmi @CallofDuty dalam unggahannya. "Call of Duty berikutnya tidak sedang dikembangkan untuk PS4."
Keputusan untuk meninggalkan PlayStation 4 secara otomatis mengindikasikan bahwa Xbox One juga akan mengalami nasib serupa. Kedua konsol ini telah menjadi rumah bagi franchise Call of Duty selama lebih dari 10 tahun, namun keterbatasan arsitektur hardware mulai menjadi penghambat bagi pengembang.
Para pengembang di bawah payung Activision kini bisa lebih leluasa mengeksploitasi kemampuan SSD berkecepatan tinggi dan fitur ray tracing pada PlayStation 5 dan Xbox Series X|S. Tanpa beban optimasi untuk hardware tahun 2013, kualitas visual dan kompleksitas mekanisme gim diharapkan melonjak signifikan.
Transisi ini sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak analis industri sejak dua tahun lalu. Namun, besarnya jumlah pengguna aktif PS4 di seluruh dunia sempat membuat penerbit ragu untuk sepenuhnya memutus dukungan demi menjaga pendapatan dari transaksi mikro.
Selama beberapa iterasi terakhir, Call of Duty sering dikritik karena ukuran file yang membengkak dan performa yang tidak stabil di konsol lama. Kebutuhan untuk menjaga kompatibilitas dengan PS4 dan Xbox One sering kali dianggap sebagai alasan mengapa inovasi mesin gim (engine) terkesan jalan di tempat.
Dengan fokus penuh pada generasi saat ini, tim pengembang dapat mengimplementasikan kecerdasan buatan (AI) yang lebih rumit dan lingkungan yang sepenuhnya destruktif. Hal ini sulit dicapai jika mereka masih harus memastikan gim dapat berjalan di prosesor Jaguar milik PS4 yang sudah ketinggalan zaman.
Langkah Activision ini kemungkinan besar akan diikuti oleh penerbit besar lainnya dalam waktu dekat. Industri gim kini secara kolektif mulai bergerak meninggalkan masa transisi dan memasuki fase "true next-gen" yang sesungguhnya.
Bagi komunitas gamer di Indonesia, pengumuman ini menjadi sinyal kuat bahwa masa pakai PlayStation 4 sebagai konsol utama telah berakhir. Meski harga PlayStation 5 sudah jauh lebih stabil dibandingkan saat peluncurannya, migrasi perangkat tetap memerlukan investasi yang tidak sedikit bagi sebagian besar pemain lokal.
Pasar sekunder PlayStation 4 di Indonesia diprediksi akan mengalami penurunan harga yang cukup tajam setelah pengumuman ini. Para pemain yang masih aktif di judul-judul seperti Warzone harus mulai mempertimbangkan untuk melakukan upgrade perangkat agar tetap bisa menikmati konten terbaru di masa mendatang.
Activision belum memberikan detail lebih lanjut mengenai judul resmi atau latar belakang cerita dari gim Call of Duty tahun 2026 ini. Namun, dengan kepastian platform ini, standar ekspektasi terhadap kualitas grafis dan performa gim tersebut kini berada di level yang jauh lebih tinggi.