DEMAK — IJTI Korda Muria Raya memanfaatkan momentum Muskorda IV untuk merumuskan strategi menghadapi disrupsi teknologi di dunia pers. FGD yang digelar di Demak itu menghadirkan pembahasan krusial tentang bagaimana AI mengubah lanskap jurnalisme, namun tetap menempatkan kreativitas dan etika sebagai fondasi utama.
Iwhan Mifthakhudin menekankan bahwa kemampuan dasar jurnalistik seperti kreativitas, kepekaan sosial, dan komitmen pada prinsip jurnalistik adalah modal utama yang tidak bisa digantikan oleh AI. Ia mendorong generasi muda yang aktif di lembaga pers mahasiswa maupun organisasi masyarakat untuk terus mengasah kemampuan tersebut.
“Generasi muda yang aktif di lembaga pers mahasiswa maupun organisasi masyarakat harus terus mengasah kemampuan jurnalistiknya agar mampu menghadapi berbagai tantangan di era digital,” ujarnya dalam sambutan di forum tersebut.
Sekretaris Jenderal IJTI, Usmar Al Marwan, memberikan perspektif berbeda. Ia menegaskan bahwa jurnalis justru harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk memanfaatkan AI dalam proses kerja. Namun, ia mengingatkan agar teknologi tidak menggeser nilai-nilai dasar jurnalisme.
Menurut Usmar, akurasi, verifikasi, independensi, dan keberimbangan informasi harus tetap dijaga. Kemampuan memanfaatkan teknologi perlu diimbangi dengan komitmen menjaga etika profesi agar media tetap dipercaya masyarakat.
Forum Muskorda IV ini juga dihadiri oleh Bupati Demak Eisti’anah. Ia menilai diskusi tersebut menjadi sarana strategis membangun sinergi antara insan pers dan pemerintah daerah. Bupati berharap kolaborasi ini dapat mendorong komunikasi yang konstruktif melalui penyampaian kritik, masukan, dan aspirasi masyarakat secara objektif.
“Pers memiliki peran penting sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan masyarakat. Kritik yang membangun dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan publik,” katanya.
Melalui forum tersebut, IJTI berharap para jurnalis dapat terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme. Prinsip-prinsip jurnalistik harus menjadi fondasi utama dalam menghadapi era disrupsi media yang semakin dinamis. Teknologi, termasuk AI, dipandang sebagai alat, bukan pengganti peran jurnalis dalam menyajikan informasi yang terpercaya.