SURAKARTA — Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar kirab malam 1 Suro untuk menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Salah satu tradisi yang paling dinantikan adalah kehadiran kebo bule, yang tahun ini akan dipimpin oleh keturunan langsung Kyai Slamet.
Kebo bule akan menjadi cucuk lampah, barisan terdepan yang memandu rombongan pembawa pusaka keraton. Posisi ini menempatkan hewan berkulit putih tersebut sebagai simbol pembersih jalan dari hal-hal buruk sebelum pusaka keraton diarak.
Keturunan Kyai Slamet dipilih karena dianggap memiliki kekuatan spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Masyarakat Solo dan sekitarnya biasanya sudah berkumpul sejak sore untuk menyaksikan momen ini.
Prosesi kirab akan dimulai setelah Salat Isya dan berlangsung hingga dini hari. Rute kirab masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu dari halaman Keraton Solo menuju utara, melewati Pasar Gede, lalu berbelok ke timur dan kembali ke keraton.
Bagi warga Solo, kemunculan kebo bule di malam 1 Suro bukan sekadar atraksi. Banyak yang percaya bahwa melihat kebo bule saat kirab membawa berkah dan perlindungan. Beberapa warga bahkan rela berdesakan di pinggir jalan hanya untuk menyentuh atau mendapatkan kotoran kebo bule yang dianggap sebagai jimat tolak bala.
Keraton Solo sendiri tidak pernah melarang praktik tersebut, selama tidak mengganggu jalannya kirab. Tradisi ini terus dipertahankan sebagai warisan budaya yang mengikat masyarakat dengan nilai-nilai leluhur.
Pihak kepolisian dan Satpol PP Kota Surakarta akan diterjunkan untuk mengamankan jalannya kirab. Pengalihan arus lalu lintas di sepanjang rute kirab mulai diberlakukan sejak sore hari. Masyarakat diimbau untuk datang lebih awal dan tidak membawa kendaraan pribadi ke area pusat kota.
Tradisi malam 1 Suro di Solo selalu menjadi magnet wisata budaya yang menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Tahun ini, dengan kembalinya kebo bule keturunan Kyai Slamet sebagai cucuk lampah, antusiasme diprediksi akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya.