SEMARANG — Pohon berusia ratusan tahun yang berada di area Tempat Pemakaman Umum (TPU) Ketileng roboh dan menghantam ruang kelas 1A SDN 03 Sendangmulyo. Peristiwa terjadi sekitar pukul 10.00 WIB saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Kepala SDN 03 Sendangmulyo, Kuntarti Endah Sarini, mengatakan suara gemuruh keras sempat membuat panik siswa dan guru. “Alhamdulillah semua yang berada di dalam kelas selamat. Hari ini siswa kelas 1A juga tetap masuk sekolah dan tidak mengalami trauma,” ujarnya, Selasa (28/1).
Endah menjelaskan pohon yang roboh bukan milik sekolah, melainkan tumbuh di area makam yang berbatasan langsung dengan tembok sekolah. Kondisi pohon sudah kering dan sering terdapat aktivitas pembakaran di bagian bawah batang.
“Kemungkinan kondisi itu membuat batangnya keropos hingga akhirnya roboh,” jelas Endah. Ia menambahkan, konstruksi tembok pembatas dan rangka baja ringan atap sekolah ikut menahan batang pohon sehingga benturan tidak langsung mengenai siswa maupun guru.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, M. Ahsan, memastikan ruang kelas yang rusak akan segera diperbaiki. Pihaknya bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) telah membersihkan material pohon dan melakukan asesmen kerusakan.
“Karena ini kondisi darurat, perbaikannya akan kami percepat. Ruang kelas tersebut sudah tidak bisa dipakai sehingga harus segera ditangani,” tegas Ahsan. Ia menyebut kerusakan masuk kategori berat sehingga rehabilitasi menjadi prioritas.
Meski satu ruang kelas rusak, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergantian untuk tiga rombongan belajar kelas 1 yang masing-masing berisi 28 siswa.
“Siswa kelas 1 masuk pukul 07.00 sampai 10.00 WIB, sedangkan kelas berikutnya mulai pukul 10.00 hingga 13.30 WIB. Yang terpenting proses belajar tetap berjalan,” kata Endah.
Ahsan menambahkan, penyesuaian jadwal ini juga mempertimbangkan kondisi psikologis siswa yang baru memulai tahun ajaran baru. “Yang paling penting anak-anak tetap semangat datang ke sekolah. Kalau mereka kita liburkan terlalu lama justru khawatir muncul rasa takut,” pungkasnya.