JAWA TENGAH — Banyak pengguna berasumsi bahwa laptop akan memberikan performa yang sama, baik saat dicolokkan ke listrik maupun menggunakan baterai. Namun, asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Sebuah pengujian komprehensif oleh Tom's Hardware mengungkap fakta menarik tentang bagaimana prosesor dari empat vendor besar—Intel, AMD, Qualcomm, dan Apple—berperilaku dalam kondisi daya yang berbeda.
Pengujian dilakukan pada laptop-laptop flagship masing-masing vendor dengan prosesor terbaru. Untuk Windows, profil daya yang digunakan adalah "Balanced" (bawaan pabrik), sementara MacBook Pro menggunakan profil "Automatic". Pengujian mencakup Cinebench 2026 (single-core dan multi-core) serta Handbrake untuk mengonversi video 4K ke 1080p.
Poin penting dalam pengujian ini adalah setiap laptop dibandingkan dengan performanya sendiri saat tersambung listrik, bukan dengan laptop lain. Tujuannya adalah mengukur persentase perubahan performa saat berpindah ke daya baterai.
Menariknya, laptop AMD lain dengan prosesor Ryzen AI 9 465 (HP OmniBook X Flip 14) menunjukkan penurunan yang lebih kecil, yaitu rata-rata 5,45%. Ini menandakan optimasi sistem juga memegang peranan penting.
Perbedaan ini terjadi karena kebijakan manajemen daya dari pabrikan. Saat menggunakan baterai, sistem cenderung membatasi konsumsi daya prosesor untuk menghemat energi. Namun, beberapa vendor seperti Apple dan Intel telah mengoptimalkan sistemnya agar batasan ini seminimal mungkin.
Di sisi lain, AMD masih perlu bekerja lebih keras. Ironisnya, Steam Deck buatan Valve yang menggunakan chip AMD semi-custom justru dirancang agar performanya identik baik saat dicolok maupun tidak. Artinya, kemampuan untuk mempertahankan performa ada pada arsitektur AMD, tetapi belum diimplementasikan secara optimal di laptop mainstream.
Bagi pengguna yang sering bekerja mobile—seperti kreator konten, editor video, atau pekerja lapangan—konsistensi performa sangat krusial. Laptop dengan penurunan performa besar akan terasa lamban saat melakukan rendering atau kompilasi data tanpa colokan listrik.
Sebaliknya, jika sebuah laptop mampu mempertahankan performa tinggi saat menggunakan baterai, pengguna harus siap dengan konsekuensi daya tahan baterai yang lebih pendek. Tugas berat seperti mengedit video 4K akan menguras baterai lebih cepat, meskipun hasil kerjanya tetap cepat dan mulus.
Dari pengujian ini, jelas bahwa tidak semua laptop diciptakan sama dalam hal performa baterai. Apple dan Intel menawarkan pengalaman yang paling stabil dan dapat diprediksi. Qualcomm Snapdragon memiliki potensi besar namun masih inkonsisten. Sementara itu, AMD, terutama pada varian tertentu, masih tertinggal jauh dalam hal efisiensi performa saat tidak tersambung listrik.
Bagi pengguna Indonesia yang sering bekerja di kafe, co-working space, atau bepergian, memilih laptop dengan prosesor Intel atau Apple mungkin menjadi pilihan paling aman jika performa konsisten adalah prioritas utama.