JAWA TENGAH — Jakarta, Kompas Tekno — Corsair Nightsword V2 Wireless resmi dijual global dengan banderol USD 129,99 (sekitar Rp 2,1 juta) atau Rp 2,9 juta untuk pasar Indonesia. Mouse ini membawa sejumlah peningkatan teknis seperti sensor Marksman S 33.000 DPI, polling rate hingga 8.000 Hz, dan konektivitas tri-mode. Namun, pembaruan ini sekaligus menghapus fitur unggulan yang membuat Nightsword generasi pertama begitu unik di kelasnya.
Dari sisi bentuk, Nightsword V2 Wireless tetap mempertahankan siluet ergonomis dengan thumb rest yang nyaman untuk grip tipe palm dan claw. Tekstur indentasi khas generasi pertama yang rawan kotor diganti dengan pola timbul di sisi samping, plus finishing matte halus di bagian punggung. Materialnya terasa kokoh dan tahan banting untuk pemakaian harian.
Namun, tata letak tiga tombol di sisi ibu jari masih bermasalah, terutama untuk pengguna dengan tangan besar. Saat pengujian di Valorant dan Marathon, tombol sniper kerap tak sengaja tertekan bersamaan dengan tombol thumb di atasnya. Masalah ini sebenarnya sudah dikeluhkan di Nightsword generasi pertama, dan sayangnya belum diperbaiki di versi baru.
Tombol scroll wheel juga terasa kurang solid karena tidak punya mode free-scroll dan bump-nya terlalu ringan. Sisanya, 11 tombol programmable terasa mantap dengan feedback klik yang tegas berkat switch optikal.
Keberatan terbesar dari mouse ini adalah dihapusnya sistem adjustable weight tuning. Nightsword RGB asli punya enam titik pemasangan dan dua set pemberat mikro yang bisa dikombinasikan untuk mengubah bobot total mouse. Software iCue bahkan bisa mendeteksi titik gravitasi secara real-time agar pengguna bisa menyetel keseimbangan sesuai preferensi.
Fitur ini menjadi salah satu alasan utama orang membeli Nightsword RGB. Dengan menghilangkannya, Nightsword V2 Wireless kehilangan identitas pembeda di tengah pasar mouse gaming yang ramai. Padahal, kompetitor seperti Logitech G502 Lightspeed masih mempertahankan sistem pemberat magnetis dan justru menjadi favorit banyak pemain.
Dalam pengujian selama tujuh hari, mouse ini dipakai untuk kerja harian dan sesi gaming panjang. Tidak ada keluhan soal kenyamanan—setelah enam jam bermain Marathon, tangan tidak terasa pegal. Respons klik dan gerakan kursor juga presisi, baik di mode 1.000 Hz maupun 8.000 Hz; perbedaannya nyaris tidak terasa untuk pemain non-kompetitif.
Baterainya menjadi nilai jual utama. Dengan rating 170 jam, dalam seminggu pemakaian intensif (lebih dari delapan jam per hari) mouse ini tidak pernah butuh diisi ulang. Pengaturan daya juga bisa diutak-atik lewat Corsair Web Hub, aplikasi berbasis browser yang kini menggantikan perangkat lunak iCue yang berat.
Nightsword V2 Wireless dibanderol USD 129,99 (sekitar Rp 2,1 juta). Di pasar Asia Tenggara, harga ritelnya diperkirakan berada di kisaran Rp 2,9 juta. Produk sudah tersedia di toko resmi Corsair dan retailer mitra secara global.
Nightsword V2 Wireless adalah mouse gaming yang secara teknis mumpuni, nyaman dipakai berjam-jam, dan punya baterai awet. Namun, di harga Rp 2,9 juta, persaingannya ketat. Dengan hilangnya fitur adjustable weight, mouse ini tidak lagi punya keunggulan eksklusif dibandingkan produk Corsair lain seperti M65 Ultra RGB atau kompetitor sekelas Logitech G502 Lightspeed dan Razer DeathAdder V4 Pro.
Mouse ini cocok untuk pemain yang mengutamakan kenyamanan grip dan tidak keberatan dengan jumlah tombol melimpah. Namun, bagi pengguna setia Nightsword RGB yang menunggu evolusi sejati, varian ini terasa seperti langkah mundur yang sulit dimaafkan.