BREBES — Suasana berbeda menyelimuti Mal Pelayanan Publik (MPP) Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Brebes pada Kamis (13/8). Ruangan yang biasanya dipenuhi urusan administrasi itu berubah menjadi saksi dimulainya kehidupan baru bagi 12 pasangan pengantin yang mengikuti program nikah gratis.
Program yang digelar menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini menjadi momen istimewa. Selain mendapatkan buku nikah dan dokumen kependudukan, masing-masing pasangan menerima modal usaha Rp 2 juta yang diserahkan langsung secara simbolis.
Wakil Bupati Brebes Wurja menegaskan bantuan modal tersebut bukan sekadar seremonial. Ia berharap uang itu menjadi fondasi bagi pasangan baru untuk membangun usaha halal yang menopang ekonomi keluarga.
"Nikah gratis dan dapat modal usaha, ini luar biasa. Jangan pernah merasa rendah, justru ini menunjukkan perhatian pemerintah kepada masyarakat. Gunakan modal ini untuk membangun usaha yang halal dan berkah," pesannya di hadapan para pengantin.
Wurja mengingatkan agar bantuan tersebut tidak dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif sesaat. Ia ingin modal itu dikelola menjadi sumber penghasilan jangka panjang bagi keluarga baru.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Brebes, Juwita Asmara, menjelaskan kegiatan ini merupakan agenda tahunan yang lahir dari kolaborasi antarlembaga. Tujuannya, memberikan kemudahan akses layanan publik kepada masyarakat.
Ia menambahkan, MPP Brebes kini menampung 24 instansi dengan sekitar 150 jenis layanan. Salah satu yang terbaru adalah layanan Balai Nikah yang sudah resmi beroperasi di lokasi tersebut.
"Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkannya," ujar Juwita.
Dua belas pasangan yang mengikuti program tersebut berasal dari sejumlah kecamatan di Brebes. Empat pasangan datang dari Kecamatan Brebes, tiga pasangan dari Wanasari, dua pasangan dari Losari, satu pasangan dari Ketanggungan, serta dua pasangan dari kecamatan lainnya.
Dalam kesempatan itu, Wurja yang hadir bersama Sekretaris Daerah Tahroni, unsur Forkopimda, kepala OPD, anggota DPRD serta perwakilan instansi terkait, menyampaikan pesan khusus. Ia menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam rumah tangga, termasuk kepada kedua orang tua.
"Mertua adalah orang tua kedua. Jangan pernah bedakan perlakuan. Jika membawa oleh-oleh, berikan sama rata. Jangan sampai ada yang melarang suami atau istri berbakti kepada orang tuanya," tegasnya.
Wurja menambahkan, momen kemerdekaan harus dirasakan nyata oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memperoleh pelayanan publik yang mudah dan terjangkau. Ia berharap pernikahan ini menjadi awal perjalanan membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.