JAWA TENGAH — Di hadapan para peserta sidang, Prabowo menuturkan bahwa Rizki sempat kesulitan membaca dan berhitung saat pertama kali mengikuti program Sekolah Rakyat. Meski demikian, semangat anak tersebut untuk tetap menopang perekonomian keluarga menjadi sorotan utama dalam pidato presiden.
"Bayangkan, badannya sekecil itu mengayuh sepeda membawa 30 kilogram ikan. Luar biasa kau, Rizki. Kau anak yang baik," ujar Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan melalui kanal YouTube MPRGOID.
Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, Rizki terpaksa berhenti bersekolah karena kondisi ekonomi keluarganya. Ia memilih bekerja sebagai penjual ikan keliling dengan mengayuh sepeda dalam jarak puluhan kilometer setiap harinya.
Beban yang dibawanya mencapai 30 kilogram ikan, angka yang berat untuk anak seusianya. Kisah ini menjadi gambaran nyata anak-anak di daerah yang terpaksa meninggalkan bangku pendidikan demi bertahan hidup.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan haknya untuk belajar. Menurutnya, tidak ada investasi pembangunan yang lebih berharga dibandingkan mengembalikan masa depan seorang anak melalui pendidikan.
"Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak. Saya yakin, Rizki, kau akan menjadi pribadi yang kuat," tutur Prabowo.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam menjalankan program Sekolah Rakyat sebagai instrumen pengentasan kemiskinan dan pemerataan akses pendidikan.
Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu yang tidak lagi terdaftar di pendidikan formal. Program ini menjadi salah satu prioritas nasional yang dipantau langsung oleh Presiden dalam setiap agenda kenegaraan.
Kisah Rizki disebut menjadi bukti bahwa program ini menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Presiden berharap keberanian dan ketahanan Rizki bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak lain yang berada dalam situasi serupa untuk kembali melanjutkan pendidikan.
Pidato yang disampaikan di kompleks parlemen itu juga menjadi pengingat bahwa persoalan anak putus sekolah masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.