JAWA TENGAH — Penilaian itu bukan datang dari pabrikan, melainkan dari jurnalis otomotif Jepang, Nanao Shimazaki, dalam tulisannya di laman Response. Ia sempat menguji Racco di jalan umum sekitar Fuji Speedway dan langsung merasakan perbedaan karakter berkendara yang signifikan. "Kualitas berkendara yang halus dan nyaman, yang jauh melampaui level kei car yang ada, benar-benar luar biasa," tulis Shimazaki.
Secara dimensi, Racco jelas mengarah ke segmen kei car. Tinggi bodinya mencapai 1.800 mm, sedikit lebih tinggi dari Honda N-BOX yang 1.790 mm, dan jarak sumbu roda 2.520 mm yang sama persis dengan N-BOX. Namun, Shimazaki menilai desainnya berbeda dari pesaingnya itu.
Sekilas Racco mengingatkan pada Daihatsu Tanto atau Honda N-BOX, tapi tampilannya dinilai lebih sederhana dan memberi kesan dewasa. "Eksteriornya memberikan kesan kuat tanpa terlalu rumit dengan detail dan hiasan, terasa bersih dan menyenangkan," tulisnya. Lampu depan dan belakang ramping, velg aluminium dicat sederhana, dan tidak ada elemen desain yang berlebihan.
Bagian dalam kabin justru yang paling menarik perhatian. Shimazaki menilai panel instrumen tertata rapi dan tombol fisiknya punya kualitas yang baik. "Kesan tombol fisiknya juga bagus, menunjukkan perhatian terhadap detail dalam kualitas keseluruhan," ujarnya.
Kualitas jok juga mendapat pujian khusus. Menurut Shimazaki, kenyamanannya terasa seperti model BYD kelas atas, bukan sekadar mobil mungil. Varian 300 ke atas sudah dapat setir dan jok berpemanas, sementara varian 300 Premium menambah jok pengemudi elektrik dan monitor tampilan sekeliling.
Fitur yang paling membantu pengguna lanjut usia adalah pintu geser yang bisa dibuka dengan menggerakkan kaki di atas lampu bundar. Ini bukan fitur yang umum di kelas kei car dan menambah nilai praktis saat parkir di ruang sempit.
Keunggulan utama Racco justru ada di cara berkendara. Shimazaki hanya mengujinya dalam waktu singkat, tapi karakter suspensi dan bodi yang kokoh langsung terasa. Kombinasi bobot baterai di lantai kabin dan pusat gravitasi rendah membuat pengendaliannya stabil meski punya bodi tinggi.
Ban yang dipakai adalah Sailun Turismo Comfort CS21 ukuran 165/65 R15. Shimazaki menilai ban ini punya peredaman suara baik, cengkeraman kuat, dan respons kemudi yang baik. Sistem penggeraknya memang tidak menawarkan akselerasi eksplosif, tapi responsnya sangat halus, khas karakter mobil listrik.
Perlu dicatat, penilaian ini masih bersifat kesan awal dari pengujian singkat. Durabilitas suspensi dalam jangka panjang, konsumsi energi riil, dan perilaku baterai di musim dingin Jepang belum teruji. Selain itu, akselerasi yang halus berarti pengemudi yang mencari sensasi tarikan cepat mungkin akan merasa kurang.
Harga Racco di Jepang juga belum dibandingkan langsung dengan kei car bermesin bensin yang jauh lebih murah. Keunggulan rasa berkendara ini harus dibayar dengan selisih harga yang signifikan, dan itu belum tentu masuk akal untuk semua pembeli.
BYD Racco membuktikan bahwa mobil listrik mungil tidak harus terasa murahan. Penilaian Shimazaki menunjukkan bahwa kualitas berkendara bisa menjadi pembeda utama, bukan sekadar spesifikasi baterai atau fitur hiburan. Untuk pasar Jepang yang sangat memperhatikan detail, ini modal besar.
Namun, keputusan membeli tetap bergantung pada kebutuhan. Kalau prioritasnya kenyamanan berkendara harian dan fitur modern, Racco layak masuk daftar. Kalau anggaran jadi pertimbangan utama dan jarak tempuh harian pendek, kei car bensin bekas masih jadi pilihan rasional.