Pencarian

Ripuji Lontaratta Padukan Aksara Lontara ke Fesyen, Tembus Pasar Antarpulau

Kamis, 08 Oktober 2026 • 09:49:01 WIB
Ripuji Lontaratta Padukan Aksara Lontara ke Fesyen, Tembus Pasar Antarpulau
Produk Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat Ripuji Lontaratta memadukan motif aksara Lontara dengan desain fesyen kekinian.

JAWA TENGAH — UMKM fesyen Ripuji Lontaratta asal Makassar memadukan aksara Lontara dengan desain tas dan topi kekinian, menjangkau konsumen hingga antarpulau sejak berdiri 2019. Pelaku usaha As'ad Fadli membangun bisnis ini dari keresahan anak muda Makassar yang mulai asing dengan aksara warisan leluhur. Platform linkumkm by BRI mencatat 17,6 juta pelaku UMKM telah memanfaatkan layanan pemberdayaan hingga September 2026.

Ripuji Lontaratta berdiri sejak 2019 dan kini mempekerjakan lima orang tenaga kerja. Produk andalannya, Malebbi Totebag dan Maraja Bucket Hat, memadukan motif aksara Lontara dengan gaya fesyen yang dekat dengan selera generasi muda.

As'ad Fadli, pendiri Ripuji Lontaratta, mengatakan ide usaha ini muncul dari kegelisahan melihat anak muda Makassar yang makin jarang mengenal aksara Lontara. Ia menilai tas dan topi bisa jadi medium untuk membawa kembali identitas budaya itu ke kehidupan sehari-hari.

"Kami melihat anak muda sekarang, khususnya di Kota Makassar, sudah mulai tidak mengenal lagi aksara Lontara. Di sisi lain, mereka memiliki minat terhadap tas dan topi yang bisa menunjang fesyen. Karena itu, kami membuat usaha ini dengan tujuan menjaga warisan budaya masyarakat Makassar namun tetap bisa tampil keren," ujar As'ad.

Dari Gerai Offline hingga Pameran Antarpulau

Ripuji Lontaratta memasarkan produknya lewat beberapa kanal sekaligus. Selain gerai offline, usaha ini aktif di media sosial, menjalin kerja sama business to business (B2B), serta mengikuti pameran dan event.

Jangkauan pasarnya tidak lagi terbatas di Makassar. Konsumen Ripuji kini datang dari berbagai kota hingga antarpulau, seiring meluasnya kanal penjualan yang digarap As'ad dan timnya.

Peran linkumkm by BRI di Sisi Legalitas dan Manajemen

As'ad mengaku kemampuan mengelola bisnis menjadi kunci agar usaha fesyennya bisa bertahan dan tumbuh. Titik baliknya datang saat ia mengunjungi Rumah BUMN Makassar dan berkenalan dengan linkumkm by BRI.

Melalui program pelatihan yang diikuti, As'ad memperbaiki aspek legalitas usaha dan manajemen sumber daya manusia. Ia belajar mengatur tim agar lebih produktif dan menyusun proses bisnis yang lebih rapi.

"Setelah saya bergabung dengan linkumkm by BRI dan mendapat program pelatihan, usaha saya mengalami perkembangan terutama di bagian legalitas dan manajemen sumber daya manusia. Saya mendapat ilmu bagaimana mengatur usaha agar bisa berkembang dan bagaimana mengatur tim supaya lebih produktif," kata As'ad.

Dalam operasional harian, Ripuji Lontaratta memanfaatkan QRIS BRI untuk mempermudah transaksi dengan pelanggan. As'ad menyebut kanal pembayaran digital itu mempercepat proses jual beli, terutama saat mengikuti pameran dan event.

Misi Budaya di Setiap Produk

Bagi As'ad, setiap tas dan topi Ripuji membawa pesan lebih dari sekadar fungsi fesyen. Motif aksara Lontara yang tercetak di produk menjadi medium untuk menyampaikan bahwa identitas budaya lokal layak dikenal dan dibanggakan.

"Dalam setiap produk kami ada sebuah misi untuk melestarikan budaya aksara Lontara yang sudah mulai dilupakan anak muda. Kami bukan hanya menghadirkan tas dan topi untuk menunjang selera fesyen pelanggan, tetapi juga bercerita melalui motif aksara Lontara bahwa inilah identitas kita yang harus kita lestarikan dan banggakan," tutur As'ad.

Tantangan Pesanan Batal hingga Persaingan Tak Sehat

Perjalanan Ripuji Lontaratta tidak selalu mulus. As'ad mengaku pernah menghadapi pesanan custom yang dibatalkan mendadak oleh pelanggan, hingga persaingan usaha yang dinilainya kurang sehat.

Pengalaman itu ia jadikan bahan evaluasi proses bisnis. Menurut As'ad, setiap persoalan mendorongnya mencari solusi agar operasional usaha lebih tahan menghadapi gejolak permintaan pasar.

BRI Sebut Pemberdayaan UMKM Harus Menyeluruh

Senior Executive Vice President (SEVP) Micro Business Empowerment BRI, M. Candra Utama, menilai pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya lewat permodalan. Tantangan pelaku usaha juga mencakup kapasitas manajemen, legalitas, pemasaran, digitalisasi, dan kemampuan membaca peluang pasar.

"BRI melihat bahwa UMKM memiliki potensi besar untuk terus tumbuh apabila mendapatkan ekosistem pendukung yang tepat. linkumkm by BRI menjadi salah satu platform yang kami hadirkan untuk membantu pelaku UMKM belajar, beradaptasi, dan berkembang sesuai kebutuhan usahanya," pungkas Candra.

Hingga September 2026, jumlah pelaku UMKM yang memanfaatkan platform linkumkm by BRI tercatat 17,6 juta. Angka itu menunjukkan perluasan akses pelaku usaha kecil terhadap sarana pengembangan usaha berbasis digital.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks