Peneliti David Voas menemukan pola kecocokan zodiak pada 10 juta pasangan sebenarnya dipicu kesalahan input data sensus Inggris tahun 2001. Temuan ini membuktikan bahwa algoritma perjodohan berbasis astrologi di aplikasi kencan tidak memiliki dasar ilmiah dan murni hasil kebetulan statistik yang terjadi secara massal.
Banyak pengguna aplikasi kencan saat ini masih mengandalkan filter zodiak untuk mencari pasangan ideal. Anggapan bahwa Leo tidak cocok dengan Scorpio atau Gemini paling pas dengan Libra sering kali dianggap sebagai panduan valid dalam hubungan asmara. Namun, sebuah penelitian besar yang melibatkan data kependudukan masif menunjukkan bahwa fenomena ini hanyalah ilusi yang tercipta dari kesalahan teknis pengolahan data.
David Voas, seorang peneliti sosial ternama, melakukan uji coba ilmiah untuk membuktikan apakah posisi bintang saat lahir benar-benar memengaruhi kecocokan dua manusia. Tidak tanggung-tanggung, Voas membedah data dari sensus penduduk Inggris dan Wales tahun 2001. Dataset ini mencakup 20 juta orang, yang jika dikelompokkan menghasilkan sampel sekitar 10 juta pasangan suami istri.
Tujuan utama penelitian ini adalah mencari tahu apakah ada kombinasi zodiak tertentu yang muncul lebih sering dibandingkan kombinasi lainnya secara acak. Logikanya, jika astrologi benar, maka akan terlihat lonjakan statistik pada pasangan dengan zodiak yang diklaim "serasi" oleh para astrolog. Sebaliknya, zodiak yang dianggap "bermusuhan" seharusnya memiliki frekuensi pertemuan yang rendah.
Pada tahap awal analisis, data memang sempat menunjukkan adanya pola pengelompokan tertentu. Sekilas, hasil tersebut seolah mendukung klaim astrologi bahwa orang-orang cenderung memilih pasangan berdasarkan afinitas zodiak. Namun, Voas tidak berhenti di permukaan dan memilih untuk menggali lebih dalam guna menemukan penyebab anomali statistik tersebut.
Hasil investigasi lebih lanjut mengungkap fakta mengejutkan. "Sinyal astrologi" yang ditemukan peneliti bukan berasal dari pengaruh kosmos, melainkan dari kesalahan imputasi dan bias saat pengumpulan data sensus. Voas menemukan pola sistematis pada catatan kependudukan yang tidak memiliki informasi tanggal lahir yang lengkap.
Petugas sensus saat itu memiliki kecenderungan untuk mengisi tanggal lahir yang kosong dengan angka "1" sebagai nilai bawaan (default). Hal ini menyebabkan terjadinya penumpukan jumlah orang secara artifisial pada tanggal-tanggal tertentu di setiap bulan. Akibatnya, tercipta pola hubungan yang seolah-olah valid secara astrologi, padahal itu hanyalah pembulatan tanggal lahir oleh birokrasi.
Setelah artefak statistik ini diperbaiki dan kecocokan berdasarkan bulan lahir dipisahkan dari batas zodiak yang sebenarnya, efek kecocokan tersebut hilang total. Tidak ditemukan bukti adanya kekuatan apa pun yang menyatukan orang-orang berdasarkan rasi bintang mereka.
Temuan ini menjadi teguran bagi tren teknologi kencan modern. Saat ini, fitur filter zodiak menjadi komoditas di platform seperti Tinder atau Bumble untuk meningkatkan engagement pengguna. Padahal, secara sains, peluang kecocokan zodiak tidak pernah lebih unggul dibandingkan hasil acak (random chance).
Carlos Orsi, dalam literatur yang diterbitkan oleh Columbia University Press, menyoroti masalah mendasar astrologi: bahkan di antara para astrolog sendiri tidak ada kesepakatan mengenai kombinasi mana yang benar-benar "baik". Tanpa teori yang homogen, klaim kecocokan ini menjadi sangat subjektif dan rentan terhadap bias konfirmasi.
Bagi pengguna di Indonesia yang sering terpapar konten ramalan bintang di media sosial, riset Voas memberikan perspektif baru. Kecocokan dalam hubungan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikologis, nilai-nilai hidup, dan komunikasi dibandingkan tanggal lahir yang tercantum di KTP. Pada akhirnya, dalam pertempuran antara sains melawan ramalan, probabilitas acak tetap keluar sebagai pemenang mutlak.