Pasar Beras Tegal Meredup Hanya Tersisa Tiga Pedagang yang Bertahan

Penulis: Surya Dinata  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 13:59:00 WIB
Pasar Beras Tegal kini hanya menyisakan tiga pedagang yang masih beroperasi.

TEGAL — Suasana lengang menyelimuti bangunan memanjang di sebelah utara Jalan Martoloyo, Kelurahan Mintaragen, Kota Tegal. Tidak ada lagi deru truk atau keriuhan kuli panggul yang dahulu menjadi pemandangan harian di pusat perniagaan beras tersebut.

Pantauan di lokasi pada Senin (4/5/2026) pagi menunjukkan kondisi fisik bangunan yang memprihatinkan. Alih-alih suara transaksi, hanya deru mesin dari bengkel tetangga yang memecah kesunyian. Akses masuk pasar pun tampak tergenang air yang merembes hingga ke area kantor.

Seorang penjaga pasar tampak sibuk mengepel lantai untuk menghalau air yang terus masuk. Kondisi kumuh dan tidak terawat ini menjadi potret buram pasar yang dahulu dikenal sebagai nadi distribusi beras di jalur Pantura.

Mengapa Kejayaan Pasar Beras Tegal Kini Meredup?

Penurunan jumlah pelaku pasar terjadi sangat drastis. Saat ini, hanya tersisa tiga hingga empat pedagang yang masih bertahan membuka lapak. Sebagian besar pedagang lainnya telah tutup usia, sementara sisanya memilih gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan perubahan pola distribusi modern.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan catatan sejarah pasar ini pada kurun waktu 1993 hingga awal 2000-an. Kala itu, Pasar Beras Tegal memegang peran sebagai pasar induk untuk wilayah Jawa Tengah (Jateng).

Pedagang dari berbagai daerah seperti Demak hingga Kudus rutin datang ke Tegal untuk mengambil pasokan beras. Dari titik inilah, beras kemudian disalurkan kembali ke pasar-pasar kecil di berbagai kabupaten tetangga.

Eksodus Pedagang Menuju Pasar Induk Cipinang

Salah satu faktor yang menandai redupnya pasar ini adalah eksodus para pemain besarnya. Banyak pedagang potensial yang memilih meninggalkan Tegal untuk mengadu nasib di pusat perdagangan yang lebih besar di Jakarta.

Apip, salah satu pelaku pasar yang kini merantau ke Pasar Induk Cipinang, mengenang masa keemasan saat ayahnya masih berjaya di pasar tersebut. Menurutnya, tahun 2001 merupakan salah satu puncak kejayaan ekonomi bagi para pedagang di Jalan Martoloyo.

“Waktu itu ada 12 pelaku pasar yang punya lapak di sini. Ramai sekali,” ujar Apip saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Keuntungan dari berniaga beras di pasar ini bahkan mampu membawa keluarga pedagang naik haji. Namun, memori kemakmuran itu kini hanya tersisa di ingatan para pelaku sejarahnya, sementara bangunan pasar terus dimakan usia dan perubahan kebijakan perdagangan daerah.

Reporter: Surya Dinata
Back to top