BRI Bawa Produk Sagu Japamo Papua ke FHA 2026 Singapura

Penulis: Surya Dinata  •  Sabtu, 09 Mei 2026 | 18:15:01 WIB
BRI fasilitasi Japamo Papua tampil di ajang FHA 2026 Singapura untuk ekspansi pasar internasional.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memfasilitasi Japamo, UMKM asal Jayapura, untuk tampil dalam ajang Food and Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura pada 21-24 April 2026. Langkah strategis ini bertujuan memperluas penetrasi produk olahan sagu asli Papua ke pasar internasional sekaligus membuktikan daya saing komoditas lokal. Keikutsertaan Japamo menjadi bukti nyata keberhasilan program pendampingan BUMN dalam mendorong pelaku usaha daerah naik kelas.

Komoditas sagu yang selama ini identik sebagai makanan pokok tradisional masyarakat Papua kini mulai bertransformasi menjadi produk gaya hidup yang modern. Melalui tangan dingin Rini Eko Setiani, pendiri Japamo, bahan baku lokal tersebut diolah menjadi aneka camilan kekinian yang siap bersaing di pasar global. BRI melihat potensi besar ini dan memberikan panggung internasional bagi Japamo guna menjaring pembeli potensial dari mancanegara.

FHA 2026 di Singapura merupakan salah satu pameran industri makanan dan perhotelan terbesar di Asia. Kehadiran Japamo di ajang tersebut bukan sekadar pameran produk, melainkan upaya memvalidasi standar kualitas pangan Papua di level dunia. Produk yang dibawa telah melalui proses kurasi ketat untuk memastikan kemasan, daya simpan, dan cita rasanya sesuai dengan preferensi konsumen internasional.

Transformasi Sagu Menjadi Produk Bernilai Tambah

Perjalanan Japamo bermula pada 2016 saat Rini Eko Setiani melihat minimnya pilihan oleh-oleh khas Papua yang praktis untuk dibawa bepergian. Sagu yang melimpah di tanah Papua seringkali hanya dijual dalam bentuk tepung mentah atau olahan tradisional dengan masa simpan singkat. Rini kemudian berinovasi menciptakan varian produk seperti cookies sagu dan camilan sehat yang lebih relevan dengan selera pasar saat ini.

Inovasi ini mengubah persepsi konsumen terhadap sagu. Produk Japamo tidak lagi dipandang sebagai makanan berat yang kaku, melainkan camilan sehat dengan kemasan menarik yang memiliki daya simpan panjang. Strategi ini terbukti efektif meningkatkan nilai ekonomi sagu, di mana Japamo kini mampu menyerap dan mengolah ratusan kilogram tepung sagu setiap bulannya.

Peningkatan kapasitas produksi ini berdampak langsung pada ekosistem pemasok bahan baku di Jayapura. Dengan permintaan yang terus tumbuh, Japamo menjadi motor penggerak bagi petani sagu lokal untuk menjaga kualitas hasil panen mereka. Hal ini menciptakan siklus ekonomi positif yang bermula dari hilirisasi produk pangan lokal.

Ekspansi Pasar dan Dukungan Rumah BUMN

Saat ini, distribusi produk Japamo telah menjangkau hampir seluruh wilayah strategis di Papua, mulai dari Jayapura, Sentani, hingga Merauke dan Sorong. Pemasarannya pun tidak lagi terbatas pada toko konvensional. Japamo aktif memanfaatkan kanal digital melalui marketplace serta membangun jaringan distributor dan reseller di berbagai kota besar di Indonesia untuk memperluas jangkauan.

Pertumbuhan pesat Japamo tidak lepas dari peran pendampingan yang diberikan BRI melalui Rumah BUMN Jayapura sejak 2019. Di sana, para pelaku UMKM mendapatkan pelatihan manajemen bisnis, peningkatan kualitas produk, hingga akses pemasaran yang lebih luas. Program BRI UMKM EXPO(RT) juga menjadi pintu masuk bagi Rini untuk memahami standar perdagangan luar negeri.

Dukungan BRI terhadap UMKM seperti Japamo mencerminkan komitmen bank pelat merah ini dalam menjalankan fungsi pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Dengan membawa produk lokal ke ajang internasional seperti FHA 2026, BRI tidak hanya membantu UMKM meraih omzet lebih tinggi, tetapi juga memperkuat citra produk Indonesia di mata dunia. Langkah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain di Indonesia Timur untuk berani berinovasi dan membidik pasar global.

Reporter: Surya Dinata
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top