PT RMK Energy Tbk (RMKE) membukukan pendapatan sebesar Rp815,6 miliar pada kuartal I 2026, tumbuh dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Lonjakan kinerja ini dipicu oleh optimalisasi jalur pengangkutan (hauling road) mandiri yang kini menjadi infrastruktur vital bagi logistik batu bara di wilayah operasional perseroan.
Kinerja positif emiten penyedia jasa logistik batu bara terintegrasi ini tidak lepas dari keberhasilan transformasi infrastruktur hulu ke hilir. Sejak dioperasikan secara penuh pada 2025, jalur pengangkutan milik grup tersebut menjadi motor utama yang mengakselerasi volume penjualan dan jasa. Langkah strategis ini terbukti efektif menjaga stabilitas bisnis di tengah fluktuasi pasar.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menjelaskan bahwa pertumbuhan signifikan pada tiga bulan pertama tahun ini merupakan hasil dari strategi integrasi yang matang. Perseroan kini lebih fokus memperluas jangkauan pasar ke pembeli strategis di level global untuk mengoptimalkan margin keuntungan.
"Dengan infrastruktur yang semakin lengkap, kami optimistis dapat terus meningkatkan volume trading dan mengoptimalkan margin saat harga pasar mendukung," ujar Vincent dalam keterangan resmi yang diterima Jumat (8/5).
Salah satu faktor penentu lompatan kinerja RMKE adalah efektivitas regulasi pemerintah daerah yang melarang penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara per 1 Januari 2026. Kebijakan ini mengubah peta logistik di wilayah tersebut, menempatkan hauling road milik RMKE sebagai aset strategis bagi para produsen batu bara yang membutuhkan jalur distribusi aman dan legal.
Data operasional menunjukkan segmen jasa pengangkutan melalui jalur ini mencatatkan lonjakan volume hingga 5,4 kali lipat secara tahunan (YoY). Hingga Maret 2026, volume angkutan mencapai 470,2 ribu ton, melesat tajam dari posisi 86,4 ribu ton pada periode yang sama di tahun 2025.
Direktur Keuangan RMKE, Edwin, menyebutkan bahwa segmen jasa pengangkutan ini berperan sebagai penyeimbang kinerja saat periode low season di awal tahun. Meskipun kondisi cuaca ekstrem sempat menekan volume muatan tongkang hingga turun 14,4 persen menjadi 1,7 juta ton, pendapatan dari jalur darat berhasil menutup celah tersebut dengan sangat baik.
Di sisi lain, segmen penjualan batu bara juga menunjukkan performa luar biasa dengan volume mencapai 1,0 juta ton hingga Maret 2026. Angka ini mencerminkan kenaikan 3,8 kali lipat dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya. Pertumbuhan volume tersebut kian solid berkat kenaikan rata-rata harga jual batu bara (ASP) sebesar 5,6 persen menjadi Rp611.396 per ton.
Keberhasilan RMKE memperluas basis pelanggan baru yang terhubung langsung dengan fasilitas logistik perusahaan memberikan fleksibilitas tinggi dalam aktivitas trading. Integrasi ini memungkinkan perseroan menangkap peluang saat tren harga batu bara bergerak positif dengan biaya logistik yang lebih terkendali.
Secara keseluruhan, RMKE mengantongi laba kotor sebesar Rp101,2 miliar, naik 19,6 persen secara tahunan. Kontribusi laba kotor ini masih didominasi oleh segmen jasa sebesar 79,0 persen, sementara segmen penjualan menyumbang 21,0 persen.
Pertumbuhan pendapatan yang progresif ini akhirnya mengalir pada perolehan laba bersih sebesar Rp55,7 miliar, atau naik 8,2 persen YoY. Dari sisi kesehatan finansial, RMKE mempertahankan struktur permodalan yang kuat dengan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) yang terjaga di level 0,54 kali, memberikan ruang bagi perseroan untuk ekspansi lebih lanjut di masa depan.