IIM Surakarta Targetkan Jadi Universitas Islam Kelas Dunia, MoU dengan 3 Kampus Luar Negeri dan 7 Lembaga Solo Raya Ditandatangani

Penulis: Qodri Anwar  •  Kamis, 14 Mei 2026 | 00:02:01 WIB
IIM Surakarta menandatangani MoU dengan tiga kampus internasional dan tujuh lembaga se-Solo Raya.

SOLO — IIM Surakarta tidak hanya sekadar berganti nama. Target menjadi universitas Islam kelas dunia sudah dibuktikan dengan sejumlah capaian akademik dan perluasan jaringan internasional. Rektor IIM Surakarta, Dr. Edy Muslimin, menegaskan bahwa status universitas bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.

“Ukuran perguruan tinggi unggul bukan terletak pada nomenklatur, tetapi pada kualitas akademik, kekuatan moral, kematangan tata kelola, produktivitas riset, reputasi global, dan dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya dalam orasi ilmiah di hadapan sivitas akademika.

Kerja Sama Internasional: AS, India, dan Korsel

IIM Surakarta telah menjalin kerja sama dengan Global Interfaith University di Amerika Serikat, Tezpur College di India, dan Halim University di Korea Selatan. Selain itu, kampus ini juga menggandeng Universitas Muhammadiyah Surakarta dan UIN Raden Mas Said Surakarta untuk program pengabdian masyarakat internasional di Malaysia.

Rektor menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat reputasi global. “Kami tidak ingin hanya dikenal di Solo atau Jawa Tengah, tetapi juga diperhitungkan di kancah internasional,” kata Edy Muslimin.

98 Persen RPS Berbasis OBE, 93 Persen Pembelajaran Student-Centered

Transformasi akademik juga sudah berjalan. IIM Surakarta mencatat 98 persen penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan 93 persen penerapan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Angka ini menjadi indikator kesiapan kampus bersaing di level global.

Saat ini, IIM Surakarta memiliki delapan program studi yang mencakup pendidikan, ekonomi syariah, hukum keluarga, komunikasi, hingga manajemen dakwah.

Kemenag Jateng Tantang IIM Riset Kecanduan Gadget

Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Dr. H. Saiful Mujab, yang menyampaikan orasi ilmiah dalam acara tersebut, menantang IIM Surakarta untuk melakukan riset dan inovasi terkait penanganan kecanduan gadget pada anak-anak. Ia menilai fenomena ini makin mengkhawatirkan dan perlu solusi berbasis akademik.

“Pendidikan agama jangan hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga harus menyentuh ranah afektif dan psikomotorik agar agama benar-benar menjiwai generasi muda,” ujar Saiful Mujab.

Ia juga menyinggung pentingnya penguatan ekoteologi atau kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai bagian dari pendidikan Islam masa depan.

MoU Serentak dengan 7 Lembaga Se-Solo Raya

Puncak acara ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara IIM Surakarta dengan tujuh lembaga pendidikan se-Solo Raya, mulai dari Sragen, Wonogiri, Boyolali, Klaten, hingga Karanganyar. Penandatanganan disaksikan langsung oleh jajaran tamu undangan dan tokoh pendidikan yang hadir.

Selain itu, IIM Surakarta juga telah melakukan survei terhadap siswa Madrasah Aliyah terkait minat program studi. Hasil survei ini akan menjadi dasar pembukaan jurusan baru saat resmi berubah menjadi universitas. Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) juga tengah disiapkan untuk membuka akses pendidikan lebih luas bagi masyarakat yang memiliki pengalaman kerja atau kompetensi tertentu.

“Alih bentuk menuju universitas Islam kelas dunia bukanlah tujuan akhir kita. Ia adalah awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar, menjadi lompatan peradaban akademik IIM Surakarta menuju panggung global,” pungkas Edy Muslimin.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top