SOLO — Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia menggandeng Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menggelar pelatihan klasifikasi olahraga disabilitas untuk kategori fisik. Pelatihan ini berlangsung di Kota Solo mulai Selasa (19/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026).
Klasifikasi merupakan tahapan krusial dalam olahraga disabilitas. Setiap atlet harus dikelompokkan berdasarkan jenis dan tingkat keterbatasan fisiknya agar pertandingan berlangsung adil. Tanpa klasifikasi yang akurat, atlet potensial kerap salah ditempatkan atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.
Selama ini, salah satu kendala utama dalam pembinaan olahraga disabilitas di daerah adalah minimnya tenaga pengklasifikasi yang tersertifikasi. Akibatnya, banyak atlet berbakat dari kabupaten atau kota yang tidak lolos verifikasi saat mengikuti kejuaraan nasional.
"Pelatihan ini kami gelar demi meningkatkan efektivitas perburuan atlet potensial. Dengan pengklasifikasi yang kompeten, potensi atlet di daerah bisa terpetakan dengan benar sejak awal," ujar perwakilan NPC Indonesia dalam keterangan yang diterima redaksi.
Peserta pelatihan berasal dari utusan NPC provinsi dan beberapa pengurus cabang olahraga. Mereka dibekali materi teori dan praktik langsung mengenai cara mengukur kapasitas fungsional atlet dengan disabilitas fisik. Materi mencakup sistem klasifikasi internasional yang berlaku di ajang Paralimpiade.
Kegiatan ini juga menghadirkan instruktur dari Komite Paralimpiade Asia (APC) yang telah berpengalaman dalam berbagai multievent. Hal ini dilakukan untuk memastikan standar yang diajarkan setara dengan standar global.
Jawa Tengah selama ini menjadi salah satu pemasok atlet disabilitas terbesar untuk kontingen nasional. Dengan adanya tambahan tenaga pengklasifikasi, proses identifikasi atlet di daerah seperti Solo, Surakarta, dan sekitarnya diharapkan lebih cepat.
Ke depan, NPC Indonesia menargetkan setiap provinsi memiliki minimal dua pengklasifikasi bersertifikat untuk masing-masing kategori disabilitas. Pelatihan serupa untuk kategori disabilitas netra dan intelektual direncanakan menyusul pada tahun yang sama.