SEMARANG — PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat peningkatan signifikan jumlah penumpang KA Joglosemarkerto. Kereta dengan lintasan melingkar yang menghubungkan kota-kota besar seperti Solo, Semarang, Purwokerto, dan Yogyakarta ini kini menjadi tulang punggung transportasi bagi mahasiswa, pekerja, wisatawan, hingga pelaku usaha di kawasan tersebut.
Direktorat Jenderal Perkeretaapian menilai pola perjalanan unik kereta ini menjadi daya tarik utama. Penumpang dapat bepergian dari satu kota ke kota lain dalam satu jalur tanpa perlu berganti kereta, membuat mobilitas jauh lebih efisien.
“Mobilitas masyarakat menjadi lebih efisien karena pelanggan dapat bepergian antarkota untuk pendidikan, pekerjaan, wisata, maupun aktivitas ekonomi lainnya,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan resmi.
Data KAI menunjukkan dua perjalanan dengan jumlah penumpang tertinggi selama empat bulan pertama 2026. Pertama, KA 187 relasi Solo Balapan–Semarang Tawang–Tegal–Purwokerto–Solo Balapan yang melayani 168.971 pelanggan. Kedua, KA 193 relasi Solo Balapan–Purwokerto–Tegal–Semarang Tawang–Solo Balapan dengan 160.401 pelanggan.
Kedua rute ini mencerminkan tingginya aktivitas di koridor Solo-Semarang dan Solo-Purwokerto, dua jalur yang menghubungkan pusat pendidikan dan ekonomi utama di Jawa Tengah.
Yogyakarta dan Jawa Tengah dikenal sebagai pusat pendidikan nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi DIY mencapai 74,70 persen, tertinggi di Indonesia. Sementara Jawa Tengah memiliki konsentrasi kampus besar yang tersebar di Semarang, Solo, Purwokerto, hingga Salatiga.
Selain pendidikan, KA Joglosemarkerto juga memperkuat konektivitas wisata. Jalur ini menghubungkan destinasi unggulan seperti Malioboro dan Candi Prambanan di Yogyakarta, Keraton Surakarta dan Kampung Batik Laweyan di Solo, hingga Kota Lama dan Lawang Sewu di Semarang.
KAI menilai tren tersebut menunjukkan kereta api kini bukan sekadar alat transportasi, tetapi telah menjadi penggerak aktivitas ekonomi dan sosial. Mobilitas yang efisien memungkinkan mahasiswa dari Purwokerto kuliah di Solo tanpa harus pindah domisili, atau pekerja di Semarang bisa pulang ke Yogyakarta setiap akhir pekan.
Peningkatan 11,41 persen dalam empat bulan juga mengindikasikan bahwa permintaan transportasi massal antarkota di Jawa Tengah dan DIY terus tumbuh. Hal ini sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan pendidikan pasca-pandemi di kawasan tersebut.