JAWA TENGAH — Bagi warga New York sejati, mencari pizza yang sempurna adalah perjalanan hidup. Mulai dari irisan tipis dari Cuts & Slices hingga keju meleleh di New Park Pizza, setiap gigitan punya standar sendiri. Kini, perburuan itu punya asisten baru: Gemini yang menempel di Google Maps.
Awalnya, fitur ini hanya digunakan untuk navigasi hands-free saat menyetir atau mengecek kemacetan. Namun, ketika seorang jurnalis Tom's Guide yang besar di Queens, New York, menggunakan fitur “Ask Maps” untuk meminta daftar tempat pizza terbaik di NYC, Gemini tidak sekadar memberi daftar. AI itu mengelompokkannya ke dalam kategori seperti “Modern Champions”, “Historical Icons”, dan “Classic Favorites” — sebuah cara yang jauh lebih terstruktur dari sekadar hasil pencarian biasa.
Di antara rekomendasi itu, Joe’s Pizza di Times Square menonjol. Gemini mendeskripsikannya sebagai “standar emas untuk irisan pizza klasik NYC” dan menyebutkan fakta-fakta spesifik: kemunculannya di film Spider-Man 2, foto selebritas di dinding, serta jam buka hingga pukul 3 pagi. Deskripsi ini bukan sekadar promosi — itu adalah data terverifikasi yang membuat rekomendasi AI terasa lebih manusiawi.
“Saya meninggalkan meja kerja dan menuju ke bawah. Setelah antre 30 menit di tengah hujan, saya pulang dengan dua irisan dan ekspektasi tinggi,” tulis sang jurnalis dalam laporannya. Hasilnya? Dua irisan pizza itu membuat antrean basah kuyup terasa sepadan. “Sekali lagi, AI tampil mengagumkan saat harus mengarahkan saya ke tempat lezat lainnya,” tambahnya.
Fitur chat Gemini di Google Maps sebenarnya sudah bisa diakses di Indonesia, meski belum sepopuler fungsi navigasi dasarnya. Keberhasilan rekomendasi Joe’s Pizza menunjukkan bahwa AI ini bisa menjadi alat kurasi yang lebih cerdas — bukan sekadar mesin pencari yang membuang daftar panjang.
Bayangkan skenario serupa di Jakarta atau Bandung: meminta Gemini merekomendasikan “tempat sate terbaik dengan rating 4-5 bintang” atau “warung bakso buka hingga tengah malam”. AI ini bisa memilah berdasarkan konteks, bukan hanya jarak atau rating mentah. Ini potensi besar bagi wisatawan atau pendatang baru yang ingin menjelajah kuliner lokal tanpa harus bergantung pada ulasan yang kadang bias.
Namun, ada catatan. Rekomendasi Gemini sangat bergantung pada data yang ada di Google Maps — termasuk ulasan pengguna, jam operasional, dan popularitas. Artinya, tempat-tempo yang kurang dikenal atau baru buka mungkin tidak langsung muncul. Ini tantangan yang sama yang dihadapi platform serupa di Indonesia, di mana basis data UMKM belum selalu lengkap.
Sang jurnalis mengaku kini lebih percaya pada rekomendasi pizza dari Gemini dan berencana mengunjungi tempat lain seperti Una Pizza Napoletana. Ini menandakan bahwa ketika AI memberikan rekomendasi yang akurat dan kontekstual, kepercayaan pengguna bisa terbangun dengan cepat.
Bagi Google, ini adalah sinyal bahwa integrasi chatbot ke dalam aplikasi peta bukan sekadar gimmick. Jika diterapkan dengan baik — termasuk untuk konteks lokal Indonesia — fitur ini bisa mengubah cara kita menemukan tempat makan, dari proses manual membaca ulasan menjadi percakapan singkat dengan AI yang paham selera kita.