JAWA TENGAH — Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa draf kesepakatan dengan Iran sebagian besar telah rampung dan tinggal menunggu finalisasi. Dalam pernyataannya di Truth Social, Minggu (24/5/2026), Trump menyebut kesepakatan itu segera diumumkan setelah berkomunikasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) dan Raja Yordania Abdullah.
"Selain banyak elemen lain dari Perjanjian tersebut, Selat Hormuz akan dibuka," tulis Trump.
Axios melaporkan, berdasarkan sumber pejabat AS, nota kesepahaman yang hampir ditandatangani itu memiliki beberapa poin utama. Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya tol, dan Iran setuju membersihkan ranjau yang telah dipasang di selat tersebut agar kapal dapat lewat dengan bebas.
Pejabat AS menekankan bahwa prinsip utama Trump dalam perjanjian ini adalah 'bantuan untuk kinerja'. Semakin cepat Iran membersihkan ranjau dan mengizinkan pengiriman kembali beroperasi, semakin cepat blokade akan dicabut. Iran memberikan komitmen lisan melalui mediator mengenai konsesi penangguhan pengayaan dan penyerahan material nuklir, namun hal itu baru akan dirundingkan sebagai bagian dari perjanjian final.
"Sebuah kesepakatan sebagian besar telah dinegosiasikan, dan masih menunggu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan berbagai negara lain," tulis Trump di Truth Social.
Draf kesepakatan juga menyebutkan bahwa perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon akan berakhir. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan menyatakan keprihatinannya dalam panggilan telepon dengan Trump. Pejabat AS menegaskan bahwa itu bukan 'gencatan senjata sepihak'—jika Hizbullah mencoba mempersenjatai kembali atau memicu serangan, Israel diizinkan mengambil tindakan pencegahan.
Perang di Iran dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026. Hingga 20 Mei, berdasarkan data Al-Jazeera, konflik itu telah menewaskan 3.468 orang di Iran dan melukai lebih dari 26.500 orang. Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons, yang memicu lonjakan harga minyak global.