JAWA TENGAH — Kepindahan Lawrence Shankland ke Ibrox Stadium berpotensi menjadi transfer paling signifikan di jendela musim panas Liga Skotlandia. Namun, pertanyaan yang mengemuka bukan sekadar kontribusinya untuk Rangers. Perannya di skuad utama Skotlandia saat turnamen dimulai pada 14 Juni melawan Haiti justru menjadi sorotan utama.
Shankland memang mesin gol bagi Hearts dengan koleksi 72 gol liga. Namun, dari 18 penampilan bersama timnas, hanya empat laga yang ia mulai sebagai starter. Empat golnya untuk Skotlandia termasuk satu gol krusial ke gawang Denmark di Hampden Park yang memastikan tiket Piala Dunia pada November lalu.
Statistik justru membela Shankland. Rata-rata keterlibatan golnya setiap 104,8 menit di level internasional jauh lebih baik dibanding kompetitor. Lyndon Dykes mencatat satu kontribusi gol tiap 205,4 menit, Che Adams setiap 209 menit, dan George Hirst tiap 299 menit. Ross Stewart bahkan belum mencetak gol atau assist dalam 34 menit bermainnya.
Selama ini Shankland dinilai hanya sebagai penyelesai akhir. Pelatih Steve Clarke sangat menghargai aspek lain: kerja keras, fisik, dan kemampuan menghubungkan permainan. Namun, dalam beberapa musim terakhir, kapten Hearts itu berevolusi menjadi striker yang lebih lengkap.
“Saya pertama kali mengenalnya sebagai penyerang yang hanya finisher. Tidak punya kecerdasan permainan atau etos kerja yang nyata,” ujar Steven Naismith, asisten pelatih Skotlandia yang pernah menangani Shankland di Hearts. “Sekarang, kecerdasan permainan dan kelengkapannya berada di level tertinggi. Ia melakukannya di momen-momen besar, bukan saat tim menang 3-0.”
Naismith menyoroti aspek lain yang jarang dibahas: kepemimpinan Shankland. Ia mencontohkan momen saat Skotlandia melawan Belanda pada 2024. Shankland punya peluang menembak, tetapi justru mengoper ke Scott McTominay. “Dulu di Hearts, kamu pasti tembak di situ. Sekarang ia paham kapan harus berkontribusi untuk tim,” tambah Naismith.
Faktor pengalaman dan loyalitas Clarke pada pemain lama masih menjadi penghalang. Namun, dengan performa konsisten di usia emas 30 tahun, Shankland kini memiliki momentum yang tidak bisa diabaikan. Jika ia mempertahankan ketajaman di Rangers, posisi nomor sembilan Skotlandia di Piala Dunia mungkin bukan lagi milik Dykes atau Adams.