BOYOLALI — Pemerintah Kabupaten Boyolali mulai menyusun rencana kontinjensi untuk menghadapi potensi kekeringan yang kerap melanda saat puncak musim kemarau. Langkah ini diambil meskipun data terbaru menunjukkan bahwa volume air di sejumlah infrastruktur penampungan, seperti embung, waduk, dan telaga, masih dalam kategori aman hingga pekan pertama Juni 2025.
Berdasarkan laporan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) setempat, ketersediaan air di beberapa titik reservoir utama belum menunjukkan tanda-tanda penurunan drastis. Namun, pengalaman tahun-tahun sebelumnya membuat pemerintah daerah tidak ingin lengah. Skema mitigasi yang disiapkan mencakup pendistribusian air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah-wilayah yang rawan kekeringan.
Topografi Boyolali yang berada di lereng Gunung Merapi dan Merbabu membuat sebagian wilayahnya sulit menyimpan air tanah dalam jumlah besar saat musim kemarau panjang. Daerah seperti Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk kerap menjadi langganan kekeringan setiap tahun. Oleh karena itu, pemeliharaan embung dan telaga menjadi prioritas agar fungsi tampungannya tetap optimal saat dibutuhkan.
Pemkab Boyolali juga menyusun skala prioritas pendistribusian air. Kebutuhan air bersih untuk rumah tangga dan kesehatan akan menjadi prioritas utama dibandingkan irigasi pertanian. Jika debit air di sumber-sumber utama mulai menyusut, pemerintah akan mengaktifkan posko pengaduan dan mempercepat jadwal dropping air ke desa-desa terdampak. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat juga telah diperkuat untuk merespons cepat laporan warga.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mulai menerapkan pola hemat air sejak dini, seperti menampung air hujan dan mengurangi penggunaan air untuk keperluan non-esensial. Edukasi mengenai konservasi air juga akan digalakkan melalui musyawarah desa dan forum-forum RT/RW. Dengan kesiapan skema mitigasi ini, Pemkab Boyolali berharap dampak kekeringan dapat diminimalkan tanpa mengganggu aktivitas warga secara signifikan.
Belum ada jadwal pasti kapan dropping air bersih akan dimulai karena kondisi tampungan air masih dinilai aman. Namun, BPBD Boyolali memastikan bahwa mekanisme pengajuan bantuan sudah siap diaktifkan sewaktu-waktu. Warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat melapor melalui perangkat desa atau langsung ke posko BPBD setempat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.