SOLO — Di tengah hiruk-pikuk perkotaan Solo, nama Kampung Kandang Sapi di Kelurahan Tegalharjo, Kecamatan Jebres, menyimpan cerita panjang tentang masa lalu. Bukan sekadar penanda geografis, nama ini merujuk pada pusat bisnis peternakan sapi perah yang pernah berjaya di era kolonial.
Berdasarkan penelusuran sejarah, kawasan tersebut dulunya merupakan lahan peternakan milik pengusaha Belanda bernama Victor Preseen. Ia membangun imperium susu perah di lokasi yang kini menjadi permukiman padat penduduk. Bisnis ini tidak hanya memasok kebutuhan susu segar, tetapi juga menjadi salah satu pilar ekonomi di Solo pada zamannya.
Keberadaan peternakan itu meninggalkan jejak yang abadi. Nama “Kandang Sapi” melekat hingga puluhan tahun setelah bangunan fisik peternakan tak lagi berdiri. Warga setempat mewariskan cerita ini secara turun-temurun, membuatnya tetap hidup di tengah perubahan wajah kota.
Kini, area yang dulunya merupakan kompleks peternakan luas telah berubah total. Lahan-lahan peternakan berubah menjadi rumah-rumah warga yang saling berhimpitan. Jalan-jalan sempit di kampung ini menjadi saksi bisu peralihan fungsi lahan dari area produksi susu menjadi kawasan hunian.
Meski secara fisik tidak ada lagi sapi yang diperah atau bangunan kandang besar, nama Kampung Kandang Sapi tetap menjadi penanda sejarah yang kuat. Identitas ini tidak pernah pudar, bahkan menjadi pembeda dengan kampung-kampung lain di sekitar Jebres.
Jejak Belanda di Solo tidak melulu soal bangunan megah seperti Benteng Vastenburg atau Pura Mangkunegaran. Kampung Kandang Sapi membuktikan bahwa pengaruh kolonial juga merambah hingga ke sektor agribisnis dan kehidupan sehari-hari warga pribumi. Bisnis susu perah yang dijalankan Victor Preseen menunjukkan bagaimana investasi swasta Belanda kala itu menyentuh sektor primer.
Cerita ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu ditemukan di museum atau situs resmi. Terkadang, sejarah justru tersimpan di nama-nama kampung yang setiap hari dilewati warga. Kampung Kandang Sapi adalah salah satu contoh nyata bagaimana masa lalu terus bergema di masa kini.