SEMARANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Ahmad Yani Semarang merilis prakiraan cuaca untuk wilayah Jawa Tengah pada Rabu, 15 Juli 2026. Secara umum, cuaca pada pagi hingga siang hari didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan. Namun, menjelang sore hingga awal malam, langit diperkirakan berubah menjadi cerah berawan hingga berawan dengan peluang hujan ringan di sejumlah titik.
BMKG menyebutkan bahwa hujan ringan berpotensi turun secara tidak merata di kawasan pegunungan, dataran tinggi, dan sekitarnya. Beberapa wilayah yang masuk dalam daftar antara lain Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Kajen, Slawi, dan Bumiayu.
Sementara itu, daerah seperti Semarang, Surakarta, Demak, Kudus, Jepara, Rembang, Pati, Purworejo, Kebumen, Klaten, Sukoharjo, Wonogiri, Pekalongan, dan Tegal diprakirakan cerah berawan hingga berawan. Suhu udara di Jawa Tengah secara umum berkisar antara 16 hingga 33 derajat Celsius, dengan kelembapan udara 45 hingga 95 persen. Angin bertiup dari arah Timur hingga Selatan dengan kecepatan 5 hingga 35 kilometer per jam.
Untuk Kota Semarang, cuaca diprakirakan cerah pada pagi hingga siang, lalu berubah menjadi cerah berawan pada sore hingga awal malam. Suhu udara di ibu kota Jawa Tengah itu berkisar 27–33 derajat Celsius dengan kelembapan 45–80 persen. Angin bertiup dari arah Timur hingga Selatan dengan kecepatan 5–30 kilometer per jam.
Berdasarkan pengamatan BMKG pada pukul 05.20 WIB, kondisi cuaca di Semarang saat itu cerah berawan. Angin bertiup dari arah Tenggara dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam, suhu udara tercatat 26 derajat Celsius, dan kelembapan udara mencapai 71 persen.
BMKG juga mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di pesisir dan pelayaran untuk waspada terhadap tinggi gelombang laut. Di Perairan Utara Jawa Tengah, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 0,5 hingga 2,5 meter. Sementara di Perairan Selatan Jawa Tengah, gelombang berkisar 1,25 hingga 2,5 meter.
Selain itu, kondisi cuaca yang relatif kering di sejumlah daerah meningkatkan potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan selalu memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG.