SOLO — Astrid menyebut sinergi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga keagamaan menjadi kunci dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa ditangani pemerintah sendirian.
“Kami sangat mengapresiasi Gereja Santo Petrus Purwosari yang telah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Ini adalah contoh bahwa persoalan sampah adalah tanggung jawab bersama,” ujar Astrid dalam keterangannya.
Berdasarkan data Pemkot Surakarta, sekitar 65 persen timbunan sampah di Kota Bengawan merupakan sampah organik. Astrid menekankan, jika sampah tersebut dipilah sejak dari rumah dan diolah menjadi kompos, volume yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo bisa berkurang signifikan.
“Sebagian besar sampah kita adalah sampah organik yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat. Kalau dipilah sejak awal, kemudian diolah menjadi kompos, bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menghasilkan pupuk yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” jelasnya.
Astrid menambahkan, kompos dari sampah organik bisa digunakan untuk penghijauan lingkungan atau mendukung urban farming di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Langkah itu dinilai mampu memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga.
Enam unit komposter yang diserahkan kepada Kelurahan Punggawan disesuaikan dengan jumlah rukun warga (RW) di wilayah tersebut. Bantuan ini diharapkan menjadi sarana edukasi dan mendorong kebiasaan baru warga dalam mengelola sampah organik secara mandiri.
Astrid berharap pelatihan pembuatan kompos tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berkembang menjadi gerakan masyarakat yang berkelanjutan. Ia mendorong warga memulai dari langkah sederhana seperti memilah sampah dari rumah dan mengurangi food waste.
“Jika dilakukan bersama-sama, dampaknya akan sangat besar bagi kebersihan Kota Surakarta. Semoga kolaborasi ini bisa menjadi inspirasi bagi komunitas dan lembaga keagamaan lainnya untuk ikut bergerak menjaga lingkungan,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi ini, Pemkot Surakarta berharap pengelolaan sampah berbasis masyarakat semakin berkembang. Penanganan sampah tidak lagi bertumpu pada pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh warga mewujudkan Surakarta yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.