Berbeda dari Piala Dunia Biasa, Turnamen Sepak Bola Jago Kapuk di Wonogiri Jadi Hiburan Agustusan yang Paling Dinanti Warga

Penulis: Rendi Kusuma  •  Kamis, 16 Juli 2026 | 16:38:31 WIB
Para pemain sepak bola Jago Kapuk berlaga di Lapangan Desa Waru, Kecamatan Slogohimo, Wonogiri, pertengahan Juli lalu.

WONOGIRI — Sorak-sorai dan gelak tawa warga menggema di Lapangan Desa Waru, Kecamatan Slogohimo, selama sepekan penuh pada pertengahan Juli lalu. Bukan laga sengit ala Spanyol versus Argentina yang tersaji, melainkan aksi lucu sekaligus sportif dari para pemain Sepak Bola Jago Kapuk. Tradisi khas perayaan Agustusan ini berhasil menyedot perhatian lintas generasi di desa tersebut.

Pemain Lansia Jadi Bintang Lapangan

Istilah "Jago Kapuk" di Wonogiri merujuk pada para pria yang usianya tak lagi muda. Mereka adalah kakek-kakek dan bapak-bapak berusia 40 tahun ke atas yang tetap nekat turun ke lapangan demi memeriahkan pesta rakyat. Meski tenaga tak seprima dulu, semangat mereka justru menjadi tontonan utama yang mengundang decak kagum dan tawa penonton.

Setiap tim dari masing-masing RW masuk ke arena dengan seragam kebanggaan. Ada yang percaya diri, ada pula yang tingkah lakunya sudah mengundang gelak tawa sebelum pertandingan dimulai. Namun, begitu bola bergulir, keseriusan tetap terjaga. Mereka saling mengoper, menyusun strategi sederhana, hingga berusaha mencetak gol demi nama baik wilayahnya.

Bukan Soal Menang atau Kalah, Tapi Guyub

Yang membuat turnamen ini berbeda adalah momen-momen spontan di luar skema pertandingan. Pemain yang salah oper bola, terpeleset saat mengejar lawan, atau tetap tersenyum lebar meski napas terengah-engah, justru menjadi hiburan alami. Tujuannya bukan mencari pemain paling hebat, melainkan menciptakan suasana guyub dan penuh canda.

Setelah peluit panjang dibunyikan, para pemain yang tadi saling berebut bola kembali duduk bersama. Mereka bercengkerama, menikmati hidangan sederhana, bahkan saling meledek dengan penuh keakraban. Menang atau kalah, semuanya tetap pulang sebagai saudara. Persaingan tidak dibumbui emosi berlebihan.

Kolaborasi Mahasiswa dan Warga Meriahkan Acara

Antusiasme masyarakat dari berbagai usia turut memeriahkan. Anak-anak berlarian di sekitar lapangan sambil memainkan bola kecil, para ibu memberikan semangat dari pinggir lapangan, dan pemuda bergotong royong menyiapkan perlengkapan. Lapangan desa berubah menjadi pusat hiburan warga.

Turnamen ini juga mendapat dukungan dari mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAI Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri yang bertugas di Desa Waru. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini memperlihatkan bahwa aktivitas positif bisa memperkuat kebersamaan di lingkungan desa.

Pesan di Balik Canda Tawa: Olahraga untuk Semua Usia

Di balik aksi lucu para pemain, tersimpan pesan sederhana. Olahraga tidak selalu harus mengejar prestasi. Sepak bola bisa menjadi ruang untuk menjaga kesehatan, mempererat silaturahmi, mengurangi sekat antargenerasi, sekaligus menghadirkan hiburan murah yang menyatukan seluruh warga. Bagi masyarakat Wonogiri, Sepak Bola Jago Kapuk telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Selama masih ada semangat untuk bergerak, tertawa, dan berkumpul bersama, lapangan desa akan selalu menjadi tempat lahirnya cerita-cerita sederhana yang membekas di hati.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: joglosemarnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top