SEMARANG — Kirab dimulai dengan arak-arakan hasil bumi dan persembahan dari masing-masing RT di Dusun Sleker. Warga menempuh perjalanan sejauh 1,5 kilometer menuju kawasan Umbul Songo sambil menampilkan kesenian tradisional seperti tari Topeng Ireng, prajuritan, dan kuda lumping, serta mengenakan busana adat Jawa.
Ritual utama dalam tradisi ini adalah pengambilan air suci dari sembilan sumber mata air Umbul Songo. Prosesi dipimpin oleh sesepuh dan tokoh masyarakat setempat. Air suci yang terkumpul kemudian dikirab kembali ke lokasi utama acara untuk dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah dan kehidupan.
Ketua Panitia Merti Dusun Sleker, Suryo Sigit, mengatakan tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat atas melimpahnya sumber air yang menopang kebutuhan sehari-hari dan pertanian warga.
“Setelah ritual pengambilan air suci selesai, kirab kembali dilanjutkan dengan membawa air dari sembilan sumber mata air hingga lokasi akhir acara. Seluruh rangkaian kemudian ditutup dengan grebek tumpeng agung yang diikuti masyarakat,” ujarnya, Minggu, 19 Juli 2026.
Menurut Suryo, Merti Dusun Sleker tidak sekadar menjaga warisan budaya leluhur. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Karena itu, setiap penyelenggaraan Saparan selalu diisi dengan kegiatan konservasi berupa penanaman pohon dan rehabilitasi kawasan sekitar Umbul Songo.
“Tradisi Saparan ini menjadi komitmen bersama warga untuk terus menjaga dan merawat kelestarian lingkungan Umbul Songo demi keberlangsungan hidup anak cucu nanti,” tegasnya.
Langkah tersebut bertujuan menjaga kelestarian mata air agar tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga generasi mendatang. Perpaduan antara budaya dan konservasi menjadikan tradisi ini tetap relevan di tengah tantangan perubahan lingkungan saat ini.