JAWA TENGAH — Citra satelit yang beredar sejak akhir pekan lalu memastikan bahwa serangan drone Ukraina berhasil menghancurkan satu unit pesawat pengebom strategis Tu-95MS di Pangkalan Udara Engels-2, yang terletak sekitar 800 kilometer dari perbatasan Ukraina. Pesawat tersebut merupakan tulang punggung armada pengebom jarak jauh Rusia dan menjadi pengangkut utama rudal jelajah Kh-101 yang kerap digunakan untuk menyerang infrastruktur dan kota-kota di Ukraina.
Tu-95MS adalah varian modern dari pesawat bermesin turboprop yang pertama kali terbang pada tahun 1952. Mesin NK-12 yang digunakannya merupakan turboprop paling bertenaga yang pernah dibuat, namun infrastruktur produksi untuk membuat pesawat ini sudah lama tidak beroperasi — produksi massal terakhir berhenti 34 tahun lalu.
Dari sekitar 60 unit Tu-95 yang masih aktif, setidaknya 10 unit telah dikonfirmasi hancur sejak konflik Rusia-Ukraina pecah pada 2022. Setiap unit yang hilang berarti pengurangan permanen terhadap kemampuan Rusia untuk meluncurkan serangan rudal jarak jauh, termasuk rudal nuklir Kh-102 yang belum pernah digunakan dalam pertempuran.
Menariknya, pangkalan Engels-2 sendiri telah diperkuat dengan 17 hanggar beton baru dan pesawat palsu yang dicat di landasan untuk mengelabui kamera drone. Langkah ini menunjukkan bahwa Rusia sadar betul akan kerentanan pangkalan strategisnya. Namun, upaya kamuflase tersebut gagal mengelabui operator drone Ukraina yang berhasil menjangkau sasaran di kedalaman wilayah Rusia.
Serangan ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang menyebut Dinas Keamanan Ukraina (SBU) sebagai otak di balik operasi tersebut. Dalam pernyataan di Telegram, SBU menulis: "SBU secara sistematis menghancurkan elemen penting dari mesin militer Rusia. Setiap pembom strategis yang dilikuidasi berarti puluhan rudal yang tidak diluncurkan ke kota-kota Ukraina, nyawa Ukraina yang terselamatkan, dan puluhan juta dolar kerugian yang tidak dapat dipulihkan bagi musuh."
Satu unit Tu-95MS yang hancur memang tidak serta-merta mengubah keseimbangan perang. Rusia masih bisa meluncurkan salvo rudal jelajah dari pesawat lainnya. Namun, yang lebih signifikan adalah pesan yang dikirimkan: tidak ada pangkalan udara Rusia yang benar-benar aman, bahkan yang berada di wilayah paling terpencil sekalipun.
Ukraina tidak bisa membangun pesawat Tu-95 sendiri, tetapi mereka juga tidak perlu melakukannya. Dengan drone yang mampu terbang sejauh 800 kilometer dan menembus pertahanan udara yang diperkuat, mereka telah menunjukkan bahwa aset strategis termahal Rusia sekalipun bisa menjadi sasaran. Setiap misi yang tersisa bagi armada Tu-95 kini membawa harga yang semakin mahal — dan risiko yang tidak bisa lagi diabaikan.