SEMARANG — Gang-gang sempit di Kampung Wonodri Kopen Barat, Semarang Selatan, kini berubah wajah. Tembok-tembok rumah dihiasi lukisan wayang Punakawan, gunungan, wajah pahlawan, hingga potret presiden Republik Indonesia dengan paduan warna pastel dan pola polkadot yang ceria.
Pemandangan itu langsung terlihat saat memasuki mulut gang. Lukisan angka 81 dan gunungan wayang menyambut pengunjung, sementara deretan wajah presiden tampak mencolok di area persimpangan gang.
Panitia kegiatan, Adelia Nurul Kharisma (37), mengatakan konsep dekorasi tahun ini sengaja mengangkat keberagaman warga setempat. Menurutnya, warga kampung tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Padang, Nusa Tenggara Timur, Jawa, hingga Flores.
"Karena di sini warganya dari berbagai macam daerah, seperti Padang, NTT, Jawa, Flores juga ada," kata Adelia kepada detikJateng, Selasa (11/8/2026).
Keragaman itu dituangkan dalam dekorasi kampung. Sementara lukisan tokoh pewayangan, pahlawan nasional, dan wajah presiden dilukis sebagai pengingat jasa para tokoh bangsa.
"Untuk HUT RI ini kita mengenang semua jasa-jasa para pahlawan sama perjuangan presiden kita. Jadi kita merdeka dan kita bisa menikmati kekayaan Indonesia, Indonesia ini juga perjuangan dari beliau-beliau ini," ujarnya.
"Untuk tokoh pewayangan itu sebagai pengingat atau penasihat kita bahwa kita itu harus berperilaku, bersikap atau berucap dengan baik dan cermat dalam menghadapi kehidupan," lanjut Adelia.
Pemilihan warna pastel dalam setiap lukisan juga memiliki makna tersendiri. Warna-warna cerah tersebut diharapkan menggambarkan suasana warga yang ceria, bahagia, dan guyub.
"Kita melambangkan warga RT 4 ini selalu perlu ceria, bahagia. Jadi semua warga dari kecil, anak-anak sampai yang paling dewasa atau sepuh itu saling guyub, saling merangkul," tuturnya.
Proses menghias kampung ini ternyata sudah dimulai sejak awal Juni. Adelia, suaminya, dan bendahara RT mencari referensi desain hingga menemukan konsep polkadot yang kemudian dimodifikasi ke lingkungan kampung.
"Kalau mewarnai dari awal Juni tadi sampai sekarang belum selesai. Masih on process, soalnya nanti tiap perbatasan RT kita juga kasih gambar-gambar yang berbeda lagi," jelasnya.
Salah satu warga yang terlibat dalam pengerjaan mural, Oni Hari Setiyanto (45), mengaku bertugas membuat desain. Ia juga yang menentukan warna hingga meracik warna yang digunakan warga. Untuk mengecat seluruh lingkungan, warga menghabiskan sekitar enam ember cat berisi 20 kilogram per ember, dengan cat dasar putih dan pewarna primer.
"Jadi warna primernya merah, kuning, biru, kita desain jadi ungu, coklat, hijau muda, pink, oranye, semua saya yang ngolah. Terus saya gambar presiden, gambar wayang, angka 81, saya desain warga yang mewarnai. Gunungan tadi juga," kata Oni.
Setiap gambar dibuat dalam waktu sekitar 30 menit hingga satu jam. Namun untuk gambar pahlawan dan presiden, membutuhkan waktu lebih lama karena harus menggunakan pola atau mal.
"Yang agak lama itu gambar pahlawan sama presiden karena pakai bantuan kertas mal, istilahnya ngemal. Jadi kertas lebar kita potong kecil-kecil sesuai bentuk, habis itu kita warnai pakai hitam dulu sebagai warna dasar. Habis itu baru manual pakai tangan," ungkapnya.
Kemampuan melukis Oni didapat secara otodidak. Ia mengaku memang memiliki hobi menggambar sejak kecil, dengan pengaruh dari keluarganya yang berkecimpung di dunia seni rupa.
"Ayah saya, terus kakak. Kalau kakak memang desainer, sekolahnya di Jogja, seni rupa. Kerjanya juga melukis. Saya ngikut aja," ujarnya.
Kegiatan menghias kampung ini juga menjadi ruang bagi anak-anak dan remaja untuk ikut berkreasi. Anak-anak diperbolehkan membantu mewarnai gambar yang sudah dibuat.
"Anak-anak banyak. Dari remaja sampai anak-anak senang, pada ngumpul. Tahu-tahu bilang, 'Pak, saya pengin ngecat'. Mereka minta warna yang mana. Kita nggak membatasi, nggak melarang juga, biar kreasi mereka jalan," ucap Oni.
Ketua RT 4 RW 11, Ahmad Munir, menambahkan terdapat sekitar 40 kepala keluarga di Wonodri Kopen Barat. Menurutnya, kekompakan warga menjadi modal utama dalam menghias kampung. Tradisi ini sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu, berawal dari iseng hingga akhirnya membudaya.
"Dulu sekitar 2020-an kebetulan iseng. Presiden dulu, bikin wayang, bikin pahlawan, bikin gambar-gambar itu sebenarnya iseng semua. Akhirnya sampai membudaya, masyarakat suka," ujarnya.
"Tujuan kita sebagai pengurus, kampung kita semakin maju," kata Munir menambahkan.