SEMARANG — Sebanyak 26 persen lahan sawah di Jawa Tengah masih bergantung sepenuhnya pada air hujan. Kondisi ini membuat produksi padi di sejumlah daerah rawan terganggu ketika musim kemarau melanda, apalagi suhu udara tinggi mempercepat penguapan air di permukaan tanah.
Kepala Distanak Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengungkapkan, dari total lahan sawah yang ada, 74 persen lainnya sudah didukung jaringan irigasi. Namun, sisanya yang tadah hujan harus mencari sumber air alternatif agar tetap bisa ditanami.
“Apalagi yang tadah hujan harus cari sumber air. Ini yang harus kita tangani,” ujarnya, Minggu (16/8/2026).
Frans, sapaan akrabnya, menilai persoalan utama bukan sekadar lamanya musim kemarau, melainkan intensitas panas yang tinggi. Ia menyebut dalam waktu singkat tanah langsung terlihat kering dan retak-retak karena kandungan airnya berkurang drastis.
“Saya melihat kekeringan ini sebetulnya bukan panjang, tapi teriknya ini lebih kelihatan. Sampai dalam waktu singkat saja kelihatan tanah itu langsung kering,” jelasnya.
Pemprov Jateng tidak tinggal diam. Sejumlah langkah dilakukan untuk menjaga produktivitas pertanian, mulai dari pompanisasi, penyediaan sumber air baru, hingga perbaikan jaringan irigasi yang sudah ada.
Langkah ini dinilai penting untuk memastikan lahan pertanian tetap produktif. Meski begitu, pemerintah berharap hujan segera turun pada September atau paling lambat Oktober agar kebutuhan air petani kembali tercukupi.
“Kalau ini panjang, misalnya lama, itu saya khawatir juga. Mudah-mudahan jangan. Kalau bisa itu September atau maksimal Oktober sudah hujan,” katanya.
Frans memastikan dampak kekeringan terhadap produksi pangan sejauh ini masih relatif terkendali. Data Distanak mencatat kerusakan lahan akibat kekeringan, banjir, maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) tidak pernah melebihi angka 5 persen.
“Tahun-tahun sebelumnya itu dari kekeringan, dari sebelumnya banjir, kemudian ada serangan OPT dan sebagainya itu tidak lebih dari 4-5 persen,” terangnya.
Untuk mengantisipasi gagal panen, petani di wilayah rawan kekeringan didorong mengubah pola tanam. Pada lahan yang sulit ditanami padi sawah, mereka disarankan beralih ke komoditas palawija atau padi gogo yang lebih tahan terhadap kondisi lahan kering.
Penyesuaian ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas produksi pangan Jawa Tengah di tengah ancaman musim kemarau tahun ini.