Tim UNNES Latih 9 Guru TK di Semarang Susun SOP Kebencanaan dan Rancang Pembelajaran Mitigasi Bencana

Penulis: Qodri Anwar  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:05:32 WIB
Sembilan guru TK Pangudi Luhur Don Bosko Semarang mengikuti pelatihan penyusunan SOP kebencanaan yang digelar Tim Pengabdian UNNES.

SEMARANG — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggandeng sembilan pendidik TK Pangudi Luhur Don Bosko Semarang dalam pelatihan dasar kebencanaan, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini menyasar kelompok pendidik yang sehari-hari berhadapan dengan anak usia dini, kelompok yang dinilai paling rentan saat situasi darurat terjadi.

Ketua Tim Pengabdian UNNES, Kristianingsih, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa penguasaan materi kebencanaan bagi guru tidak lagi sekadar pelengkap. Guru dituntut mampu mengambil keputusan cepat dan tepat ketika bencana datang, karena anak-anak belum bisa menentukan tindakan penyelamatan diri sendiri.

“Guru memiliki peran penting dalam memastikan anak tetap aman ketika terjadi bencana. Anak usia dini merupakan kelompok rentan yang belum mampu mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang tepat saat terjadi bencana. Guru tidak cukup hanya mengetahui jenis-jenis bencana, tetapi juga perlu memahami langkah-langkah kesiapsiagaan serta tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi,” ujar Kristianingsih.

Dari Diskusi Kondisi Darurat Hingga Dokumen SOP Sekolah

Pelatihan dirancang partisipatif, tidak hanya memaparkan teori. Para guru diajak memetakan berbagai kondisi darurat yang berpotensi terjadi di lingkungan sekolah, lalu mendiskusikan langkah penanganan sebelum, saat, dan setelah bencana.

Hasil diskusi tersebut kemudian dituangkan menjadi dokumen prosedur operasional standar (SOP) kebencanaan. Dokumen ini nantinya menjadi pedoman resmi bagi sekolah dalam merespons situasi darurat, menggantikan kebiasaan tanggap darurat yang selama ini bersifat insidental.

Mitigasi Bencana Masuk ke Rancangan Pembelajaran Harian

Materi lain yang tidak kalah penting adalah penyusunan rancangan pembelajaran berbasis mitigasi bencana. Para guru mendapat bekal untuk mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan belajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.

Dengan pendekatan ini, pemahaman tentang bencana tidak lagi disampaikan sebagai hafalan, melainkan tertanam lewat permainan dan aktivitas keseharian di kelas. Sekolah pun diharapkan memiliki budaya siaga yang lebih kuat, bukan sekadar kesiapan administratif.

Program pengabdian masyarakat ini didanai melalui skema BIMA Kemdiktisaintek. Selain Kristianingsih, tim pengabdian beranggotakan Fitri Febri Handayani, Siti Herlina Dewi, Khansa Afifah Utami, dan Puspa Savitri Adriyani.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: jatengnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top