Luas Tanam Padi di Jawa Tengah Turun 20 Persen Imbas Kemarau, Enam Kabupaten Masuk Zona Rawan Kekeringan

Penulis: Qodri Anwar  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:01:01 WIB
Luas tanam padi di Jawa Tengah turun 20 persen akibat kemarau, enam kabupaten masuk zona rawan kekeringan.

SEMARANG — Kepala Distanak Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menyebut angka penurunan luas tanam itu merupakan laporan dari kabupaten per Juli lalu. Ia menambahkan, data tersebut masih bisa berubah karena para penyuluh masih melakukan pendataan di lapangan.

"Turun sekitar 20 persen, tapi itu laporan yang angkanya masih bisa berbeda, karena penyuluh juga di lapangan, ini laporan dari Kabupaten per bulan lalu (Juli)," ujarnya.

Strategi Pemerintah Menjaga Produksi Padi

Untuk menahan laju penurunan produksi, Distanak Jateng berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, Kementerian Pertanian, penyuluh, Bank Indonesia, dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Fokus utama kerja sama ini adalah menyediakan pasokan air ke lahan pertanian.

Di daerah yang sulit mendapatkan air, pemerintah menyiapkan sumur dalam dan sumur dangkal. Air dari sumur tersebut kemudian dialirkan menggunakan pompa dan pipa menuju sawah-sawah petani.

Selain infrastruktur, pemerintah juga menyiapkan skema perlindungan bagi petani melalui asuransi pertanian. Pada 2026, lahan yang dialokasikan untuk program ini seluas 10.400 hektare dan tersebar di 29 kabupaten serta Kota Semarang.

Syarat Klaim Asuransi dan Target Produksi

Distanak Jateng memastikan petani yang gagal panen akibat hama atau kekeringan bisa mengajukan klaim asuransi. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu kerusakan lahan minimal 75 persen dan telah melalui pemeriksaan petugas.

"Kalau gagalnya 75 persen, kondisinya tidak bisa diselamatkan dari luasan itu, otomatis diganti, biasanya Rp6 juta per hektare untuk mengganti kerugiannya," jelas Defransisco.

Meski luas tanam berkurang, Distanak tetap memasang target produksi gabah kering giling sebesar 10,5 juta ton pada 2026. Salah satu cara yang didorong adalah meningkatkan produktivitas lahan lewat pertanian modern, yakni metode Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PMAAS).

Metode ini memungkinkan petani menanam langsung tanpa proses pembibitan terlebih dahulu. Model tanamnya mirip jajar legowo, tetapi jumlah benih lebih banyak sehingga bisa menghemat waktu persemaian hingga dua minggu dan hasil panennya pun lebih tinggi.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: lingkarjateng.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top