Konser Tribute To 2D di Kemang: Deddy Dhukun hingga Shandy Sondoro Meriahkan Malam Kenangan

Penulis: Qodri Anwar  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 19:17:31 WIB
Deddy Dhukun tampil dalam Konser Tribute To 2D di Deheng House, Kemang, Jakarta, Sabtu malam (tanggal).

JAWA TENGAH — Malam di Kemang berubah menjadi ruang nostalgia ketika Deheng House menggelar Konser Tribute To 2D. Lebih dari sekadar ajang bernostalgia, konser yang dimulai pukul 20.00 WIB ini menjadi jembatan yang mempertemukan dua generasi musisi dalam satu panggung, dipandu oleh Ade Andrini sebagai host. Pesona Tiga Suara: Generasi Penerus yang Menghidupkan Kembali Lagu Sang Ayah

Pembukaan konser menjadi momen emosional ketika Pesona Tiga Suara naik ke panggung. Grup vokal yang beranggotakan anak-anak dari Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra ini membawakan empat lagu ikonik: "Jatuh Hatiku", "Esok Kan Masih Ada", "Sepanjang Jalan Tol", dan "Bohong".

Penampilan mereka bukan sekadar persembahan biasa. Ada dimensi personal yang kuat ketika generasi kedua membawakan karya orang tua mereka, sekaligus membuktikan bahwa lagu-lagu 2D tetap relevan di tengah lanskap musik yang terus berubah. Dari Shandy Sondoro hingga Wijaya 80: Interpretasi yang Berbeda

Setelah Pesona Tiga Suara, giliran Shandy Sondoro mengambil alih panggung. Penyanyi berkarakter vokal khas ini membawakan "Semua Jadi Satu", "Jakarta", dan "Aku Jadi Bingung". Penampilannya berlanjut dengan Andien yang membawakan "Aku Ini Punya Siapa", "O Ya", dan "Kau Seputih Melati".

Yang menarik dari sesi ini adalah bagaimana setiap penyanyi memberikan warna berbeda pada materi yang sama. Audiensi Band yang mengiringi sepanjang malam berhasil menjaga alur pertunjukan tetap solid, meski setiap penampil datang dengan karakter musikal yang beragam.

Menjelang puncak acara, Wijaya 80—grup yang beranggotakan Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe—tampil membawakan deretan lagu seperti "Yang Terbaik untuk Kita", "Melati Di Atas Bukit", "Melayang", dan "Keraguan". Penampilan mereka memperkaya repertoar 2D dengan pendekatan musik yang kontemporer. Malam Spesial Deddy Dhukun: Menghadirkan Kenangan di Tengah Kehilangan

Puncak konser tiba ketika Deddy Dhukun melangkah ke panggung. Malam itu menjadi penampilan yang sarat makna: Deddy tampil sebagai bagian dari 2D yang masih aktif berkarya, sementara rekannya, Dian Pramana Poetra, telah berpulang lebih dulu.

Ketiadaan Dian terasa dalam setiap jeda dan melodi yang dimainkan. Deddy membawakan rentetan lagu yang menjadi penanda perjalanan panjang 2D: "Puji Syukur", "Biru", "Masih Ada", "Sebelum Aku Pergi", "Kusadari", hingga "Jalan Masih Panjang". Lirik-lirik tersebut berbicara tentang waktu, kehilangan, cinta, dan harapan—tema yang terasa lebih personal malam itu.

Deddy kemudian menutup konser dengan mengajak seluruh penampil tamu naik ke panggung, menciptakan momen kebersamaan yang utuh antara para musisi lintas generasi. Deheng House dan Visi Ruang Musik Lintas Generasi

Di balik konser ini, ada visi yang lebih besar dari pihak penyelenggara. Direktur Utama Deheng House, Amaliah Ananda Abadi, menegaskan komitmen pihaknya untuk mendukung perkembangan musik Indonesia.

"Deheng House percaya bahwa musik Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan budaya dan identitas kita. Karena itu, kami ingin Deheng House menjadi rumah yang terbuka bagi para musisi, kreator, dan seluruh insan yang ingin terus berkarya dan memberikan warna bagi perkembangan musik Indonesia," ujar Amaliah.

Ia juga menekankan pentingnya ruang kolaborasi antar-generasi. "Kami ingin membangun ruang yang berkelanjutan. Sebuah tempat di mana musisi dari berbagai generasi dapat bertemu, berkolaborasi, bereksperimen, dan memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas. Konser Tribute To 2D adalah salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut—menghormati perjalanan para legenda, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya."

Melalui Konser Tribute To 2D, karya Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra kembali menemukan ruangnya di tengah penonton. Panggung ini menjadi bukti bahwa musik yang lahir dari kejujuran akan selalu punya tempat, terlepas dari bergantinya zaman.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: redaksisatu.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top