JAWA TENGAH — Duka mendalam menyelimuti Banjar Mekarsari, Desa Perancak, Kecamatan Jembrana. Rumah duka keluarga Tedy dipasangi umbul-umbul putih sebagai penanda kematian, dan sanak saudara bergantian datang memberikan penghormatan terakhir. Hingga Senin (31/8/2026), keluarga mengaku belum menerima kepastian kapan jenazah akan diterbangkan ke Tanah Air dari Amerika Selatan.
Proses pemulangan dua jenazah pekerja migran Indonesia kini menjadi prioritas Kementerian Luar Negeri dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Kedua lembaga terlibat koordinasi dengan perwakilan RI di Venezuela yang membawahi wilayah Guyana.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai jadwal keberangkatan jenazah. Namun, keluarga korban berharap proses administratasi dan pengurusan dokumen dapat berjalan cepat, termasuk pemenuhan hak-hak korban sebagai pekerja migran yang terdaftar resmi.
Kecelakaan terjadi pada Jumat pekan lalu waktu setempat. Rombongan pekerja migran Indonesia yang baru tiba di Guyana mengalami insiden saat di perjalanan menuju lokasi penempatan. Kendaraan yang membawa rombongan bertabrakan dengan truk trailer di Jalan Timehri, kawasan yang menghubungkan bandara dengan ibu kota Georgetown.
Ayah korban, Mangku I Wayan Biantara, menceritakan komunikasi terakhir dengan anaknya terjadi setelah Tedy tiba di Bandara Guyana. Saat itu, Tedy sempat menghubungi keluarga untuk memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai di negara tujuan. "Dia bilang sudah sampai di sana, kami sempat merasa lega karena ia menelepon langsung," ujarnya.
Guyana merupakan salah satu negara tujuan baru bagi pekerja migran Indonesia, terutama untuk sektor perkebunan dan pertambangan. Negara di pesisir utara Amerika Selatan itu sedang mengalami lonjakan investasi asing setelah ditemukannya cadangan minyak lepas pantai yang besar.
Jarak tempuh dari Indonesia ke Guyana memakan waktu lebih dari dua hari penerbangan dengan beberapa kali transit. Faktor kelelahan dan adaptasi terhadap lingkungan baru kerap menjadi perhatian utama bagi para pekerja yang baru tiba.
Sejumlah organisasi buruh migran meminta pemerintah memastikan proses pemulangan jenazah tidak terhambat birokrasi. Mereka juga menyoroti pentingnya pendampingan keluarga korban selama proses klaim asuransi dan santunan dari perusahaan penempatan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Kementerian Luar Negeri mengenai estimasi waktu pemulangan. Keluarga di Jembrana hanya bisa berharap Tedy dan rekan kerjanya segera pulang untuk dimakamkan di kampung halaman masing-masing.