JAWA TENGAH — Spekulasi tentang komposisi pemerintahan berikutnya kembali menghangat setelah sebuah poster berjudul "Kabinet Tangguh" menyebar luas di berbagai platform media sosial. Susunan kabinet yang digambarkan itu menempatkan sejumlah tokoh yang belakangan kerap melontarkan kritik terhadap kebijakan pemerintah, mulai dari tingkat pimpinan hingga kementerian teknis.
Poster itu juga memuat slogan "Indonesia Maju, Rakyat Sejahtera!", nilai "Profesional, Bersih, Berani", serta tagar #TangguhUntukIndonesia. Fenomena ini muncul di saat pemerintah resmi masih berjalan dan belum ada agenda peralihan kepemimpinan yang diumumkan.
Dalam poster yang beredar, Dedy Mulyadi dan Ahok ditempatkan sebagai pasangan pimpinan nasional. Di bawah mereka, Mahfud MD diusulkan mengisi posisi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM, sementara Bambang Brodjonegoro disebut sebagai Menteri Koordinator Perekonomian.
Untuk kementerian koordinator lainnya, Anies Baswedan tercantum sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan SDM, serta Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Menteri Koordinator Pertahanan, Keamanan, dan Strategis. Nama Gatot Nurmantyo muncul sebagai calon Menteri Pertahanan.
Beberapa posisi ekonomi strategis turut diisi tokoh publik:
Selain itu, tercantum pula Ganjar Pranowo, Retno L.P. Marsudi, Tri Rismaharini, Rocky Gerung, Abraham Samad, hingga Anindya Novyan Bakrie dalam berbagai posisi yang tak dirinci lebih lanjut.
Aktivis pendidikan Darmaningtyas melihat kemunculan poster semacam ini sebagai dinamika wajar dalam percakapan politik digital. Menurut dia, daftar kabinet alternatif yang digarap warganet kerap menjadi medium untuk menyampaikan harapan sekaligus kritik terhadap kinerja pemerintah.
Ia menilai fenomena ini menarik karena sebelumnya publik juga pernah dihadapkan pada istilah "Kabinet Bayangan". Kala itu, sejumlah tokoh nonpemerintah disusun dalam formasi menteri tandingan sebagai bentuk evaluasi terhadap kebijakan resmi.
Yang membedakan kali ini, kata Darmaningtyas, adalah keterlibatan banyak nama dari berbagai latar belakang, termasuk aktivis, pengusaha, dan mantan pejabat tinggi negara. Hal ini menunjukkan ekspektasi masyarakat terhadap kombinasi figur yang dianggap memiliki rekam jejak bersih dan berani mengambil keputusan.
Meski ramai dibagikan dan memicu diskusi, Kabinet Tangguh bukanlah susunan kabinet resmi yang ditetapkan lembaga negara. Kehadiran Dedy Mulyadi, Ahok, dan tokoh lainnya dalam poster sama sekali tidak menunjukkan adanya pengangkatan atau indikasi agenda politik resmi dari partai tertentu.
Sejauh ini konten tersebut hanya berstatus sebagai bahan perbincangan warganet. Tidak ada pernyataan resmi dari para tokoh yang tercantum soal kesediaan mereka bergabung dalam formasi tersebut. Klaim-klaim jabatan yang beredar pun belum memiliki dasar hukum atau mekanisme konstitusional yang sah.