JAWA TENGAH — Langkah ini menjadi penanda pergeseran fundamental DOOH yang selama ini dikenal sebagai pengelola billboard dan baliho. Dalam dokumen paparan publik yang dikutip Senin (7/9), perseroan menyebut masuknya pengendali baru memberikan akses ke ekosistem Grup SII sekaligus menjadi titik balik pengembangan usaha menuju AI.
“Pivoty point pengembangan Perseroan, akses ke ekosistem Grup SII dan arah baru menuju AI ecosystem,” tulis perusahaan dalam dokumen resminya.
DOOH melihat peluang besar di bisnis pusat data berbasis AI seiring derasnya investasi perusahaan teknologi global atau hyperscaler ke Indonesia. Perseroan memperkirakan kapasitas IT terpasang nasional akan melonjak dari sekitar 1.440 megawatt (MW) menjadi 3.560 MW dalam lima tahun ke depan.
Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sekitar 19,9% pada periode 2025-2030. Dari sisi nilai pasar, DOOH mengutip riset Mordor Intelligence 2026 yang memperkirakan pasar data center Indonesia tumbuh dari US$1,83 miliar atau sekitar Rp32,27 triliun menjadi US$3,48 miliar (sekitar Rp61,39 triliun) pada 2026-2031.
Peluang ini kian menarik karena biaya pembangunan pusat data di Indonesia berada di kisaran US$8 juta hingga US$9 juta per MW, atau setara Rp141 miliar sampai Rp158 miliar. Angka tersebut dinilai lebih kompetitif dibandingkan Singapura dan Malaysia.
Segmen yang lebih agresif justru datang dari AI data center. DOOH memproyeksikan pasar khusus ini dapat tumbuh sekitar enam kali lipat menuju 2035 dengan CAGR 17%-20%, jauh di atas pertumbuhan pusat data konvensional.
Nilai pasarnya diperkirakan meningkat dari US$553 juta atau sekitar Rp9,75 triliun menjadi US$3,339 miliar atau setara Rp58,8 triliun. Arus investasi raksasa teknologi global menjadi pendorong utama, seperti komitmen Microsoft senilai US$1,7 miliar untuk pengembangan cloud dan AI di Indonesia.
Selain itu, DOOH menyoroti investasi US$2,3 miliar untuk pembangunan kampus AI-ready berkapasitas 144 MW di Jakarta. Ada pula investasi US$250 juta untuk membangun AI Factory berbasis GPU yang telah beroperasi dan mendukung komputasi AI generatif, termasuk migrasi dari GPU H100 ke Blackwell.
Transformasi DOOH tidak berhenti di pusat data. Perseroan juga masuk ke sektor konektivitas dengan menilai penetrasi internet cepat rumah tangga Indonesia yang baru sekitar 21%, sehingga ruang tumbuh fixed broadband masih lebar.
Ekspansi akan mencakup pembangunan fiber optic, submarine cable, dan layanan internet berkecepatan tinggi. DOOH menilai kelima pilar infrastruktur—data center, internet cepat, fiber optik, kabel laut, dan energi hijau—saling menopang. Konektivitas dan listrik menjadi fondasi bagi kapasitas komputasi AI nasional.
Distribusi pusat data yang timpang juga menjadi celah pasar. Sekitar 57% kapasitas data center masih terkonsentrasi di Jakarta. Kondisi ini membuka peluang pengembangan di luar Pulau Jawa, terutama lokasi yang memiliki dukungan jaringan fiber dan titik pendaratan kabel laut.
Bagi investor, pivot ini mengubah profil risiko DOOH secara drastis. Bisnis media luar ruang yang padat aset dan bergantung pada belanja iklan akan bergeser menjadi bisnis infrastruktur digital dengan kontrak jangka panjang dan arus kas yang lebih stabil.
Kendati demikian, kebutuhan modal untuk membangun data center dan PLTS sangat besar. DOOH tidak merinci skema pendanaan dalam paparan tersebut, namun akses ke ekosistem Grup SII disebut menjadi kunci utama percepatan pengembangan usaha ke depan.