WONOGIRI — Kondisi ekonomi yang membuat konsumen semakin selektif bukan berarti peluang usaha tertutup. Masyarakat tetap membeli, tetapi mereka kini lebih berhati-hati dalam memilih harga, manfaat, dan skala pembelian.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Namun, pada Juli 2026, Indeks Konsumsi Rumah Tangga justru turun 0,45 persen. Artinya, konsumen mulai menghitung ulang setiap pengeluaran.
Usaha yang berpotensi bertahan bukan yang sedang viral, melainkan yang menjual solusi atas masalah sehari-hari dengan modal bisa diputar cepat.
Sektor kuliner tetap paling realistis, tetapi jangan membayangkan membuka restoran atau kafe. Model yang lebih masuk akal adalah menjual nasi rames, lauk matang, sarapan, gorengan premium, atau katering harian skala kecil.
Kunci utamanya bukan variasi menu, melainkan harga terjangkau, bahan baku mudah diperoleh, dan bisa diproduksi dari rumah. Penjualan bisa memanfaatkan WhatsApp, komunitas, atau layanan pesan-antar sehingga perputaran uang lebih cepat.
Data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menunjukkan sektor perdagangan besar dan eceran merupakan kelompok UMKM terbesar. Namun, persaingan kuliner sangat ketat, sehingga mencari kebutuhan yang sudah ada di sekitar rumah lebih aman daripada ikut-ikutan menu viral.
Ketika ekonomi menekan, sebagian konsumen memilih memperbaiki barang lama ketimbang membeli baru. Peluang ini kerap luput dari perhatian.
Jasa servis elektronik rumah tangga, reparasi ponsel, servis sepeda motor, tambal ban, laundry kiloan, hingga pangkas rambut menjadi pilihan yang masuk akal. Model ini menjual keahlian, bukan sekadar barang, sehingga modal inventori bisa ditekan dan uang tidak lama tertahan di stok.
Bisnis reseller tetap menarik, tetapi cara bermainnya harus berubah. Jangan membeli banyak barang hanya karena berharap laku.
Fokuslah pada produk yang dicari berulang kali, seperti kebutuhan rumah tangga, perlengkapan bayi, makanan ringan, atau produk kebersihan. Sistem pre-order atau stok tipis lebih disarankan agar modal tidak banyak mengendap di gudang.
Bisnis kecil tidak selalu harus membuat produk sendiri. Menjadi perantara juga membuka peluang, misalnya agen pembayaran, pulsa, paket data, PPOB, atau layanan administrasi digital.
Margin per transaksi memang tidak besar. Akan tetapi, dengan lokasi tepat dan pelanggan yang kembali, bisnis ini bisa menghasilkan arus kas harian. Kuncinya adalah volume transaksi dan biaya operasional yang rendah.
Bagi masyarakat desa, usaha tidak harus berorientasi ke kota besar. Produk lokal justru bisa menjadi aset.
Makanan olahan, hasil pertanian, kerajinan, rempah, hingga camilan khas daerah dapat dikemas lebih baik lalu dipasarkan melalui marketplace dan media sosial. Kemasan, foto, cerita produk, dan pelayanan sering kali menjadi pembeda utama.
Capaian Karya Kreatif Indonesia 2026 mencatat transaksi UMKM mencapai Rp177,21 miliar dalam empat hari, dengan transaksi online sekitar Rp119,45 miliar. Angka itu menunjukkan kanal digital masih menjadi ruang penting bagi pelaku usaha kecil untuk menjangkau pembeli.
Pada akhirnya, memilih bisnis yang paling sesuai bergantung pada modal dan kondisi sekitar. Jika modal benar-benar terbatas, menghindari usaha dengan biaya operasional tinggi dan fokus pada kebutuhan harian adalah langkah paling bijak.