JAWA TENGAH — Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi momok bagi orang tua, terutama saat musim kemarau seperti sekarang. Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Bengkulu menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan: dari total 5.156 kasus ISPA yang tercatat sepanjang tahun 2026, sebanyak 3.032 kasus terjadi pada anak usia di bawah lima tahun.
Artinya, hampir 60 persen penderita ISPA di kota ini adalah balita. Kelompok usia ini memang paling rentan karena sistem imunnya yang belum terbentuk sempurna. Selain ISPA, dinas kesehatan juga mencatat 8 kasus pneumonia, dengan 6 di antaranya menyerang balita dan menyebabkan 8 kasus kematian.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati, mengingatkan para orang tua untuk tidak menyepelekan gejala gangguan pernapasan pada anak. Apalagi, kondisi cuaca kering seperti saat ini membuat penyebaran penyakit semakin mudah terjadi.
Saluran pernapasan balita masih sempit dan belum matang, sehingga peradangan akibat infeksi bisa menyumbat aliran udara lebih cepat. Akibatnya, kondisi yang awalnya terlihat seperti batuk pilek biasa bisa memburuk dalam hitungan jam.
Jangan tunggu anak terlihat lemas atau sesak. Segera bawa ke puskesmas atau dokter anak jika si kecil menunjukkan gejala seperti:
"Jangan abai, terutama kalau yang mengalami keluhan adalah balita. Ketika anak mulai menunjukkan gejala atau mengalami gangguan pernapasan, segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa," ujar Nelli, Rabu (9/9/2026). Penanganan dini membantu kondisi anak diketahui lebih cepat sehingga pengobatan bisa diberikan sebelum penyakit bertambah parah.
Banyak orang tua baru ingat imunisasi saat anak sudah sakit. Padahal, vaksinasi rutin adalah langkah pencegahan paling efektif, terutama untuk pneumonia yang menjadi komplikasi fatal ISPA.
Kementerian Kesehatan telah menyediakan vaksinasi pneumonia secara gratis di puskesmas dan posyandu. Pastikan si kecil mendapat imunisasi sesuai jadwal yang ditetapkan. Namun perlu diingat, vaksin bukan jaminan mutlak. Ia tetap harus didukung kebiasaan sehat sehari-hari.
Lingkungan rumah memegang peran besar dalam mencegah ISPA kambuh. Paparan asap rokok adalah faktor risiko terbesar yang sering tidak disadari orang tua. Jika ada anggota keluarga yang merokok, minta mereka merokok di luar rumah, bukan hanya pindah ruangan.
Selain itu, bersihkan debu secara rutin, terutama di kamar tidur anak. Gorden, karpet, dan boneka berbulu bisa menjadi sarang debu dan tungau yang memicu iritasi saluran napas. Pastikan juga sirkulasi udara rumah lancar, dan ajarkan seluruh keluarga untuk mencuci tangan sebelum memegang bayi atau balita.
Nelli menambahkan, orang tua perlu peka terhadap perubahan kecil pada kondisi anak. "Orang tua harus lebih peka terhadap kondisi anak. Jangan menganggap remeh ketika anak mengalami keluhan, apalagi kalau ada gangguan pada pernapasan. Lebih baik segera diperiksa daripada terlambat mendapatkan penanganan," katanya.
Selain imunisasi dan pemeriksaan dini, kebiasaan harian menentukan daya tahan tubuh anak. Pastikan si kecil mendapat makanan bergizi seimbang dengan porsi sayur dan buah yang cukup, serta tidur yang berkualitas sesuai usianya.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah bermain di luar rumah juga perlu dibiasakan sejak dini. Jaga kebersihan lingkungan sekitar, dan hindari membawa balita ke tempat ramai yang sirkulasi udaranya buruk saat musim pancaroba seperti ini.
Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, risiko ISPA pada balita bisa ditekan. Kuncinya bukan panik, tapi konsisten melakukan pemeriksaan rutin dan menerapkan pola hidup bersih di rumah.