SOLO — Gelombang protes mulai muncul dari kalangan pendukung setia Persis Solo, Pasoepati, terkait pola komunikasi yang dijalankan oleh manajemen klub. Kritik ini mencuat di tengah persiapan tim menghadapi laga besar melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Persoalan komunikasi antara manajemen dan basis massa suporter dinilai menjadi kendala utama yang menghambat harmonisasi di internal tim. Para pendukung merasa ada jarak yang lebar dalam penyampaian informasi strategis mengenai kondisi klub saat ini.
Jodi, salah satu perwakilan Pasoepati, menyatakan bahwa pihaknya tidak tinggal diam melihat situasi yang berkembang. Ia menegaskan bahwa suporter telah melakukan upaya formal untuk membuka jalur dialog dengan para petinggi manajemen Persis Solo.
"Kami sudah berkomunikasi dengan manajemen untuk menyampaikan aspirasi suporter," ujar Jodi saat menjelaskan langkah yang diambil organisasi.
Langkah ini diambil setelah adanya keresahan di akar rumput mengenai kebijakan dan arah komunikasi klub yang dianggap kurang responsif. Suporter menginginkan adanya keterbukaan agar tidak terjadi simpang siur informasi yang dapat merugikan stabilitas tim di lapangan.
Kritik yang dilayangkan Pasoepati ini muncul di momentum krusial, yakni menjelang laga kandang melawan Persebaya. Suporter berharap manajemen segera memperbaiki pola interaksi agar dukungan di stadion bisa maksimal tanpa dibayangi kekecewaan terhadap pengelola.
Hingga saat ini, elemen suporter masih menunggu respons konkret dari manajemen atas poin-poin keberatan yang telah disampaikan. Jodi menyebut bahwa komunikasi awal sudah terjalin, namun realisasi dari tuntutan suporter akan terus dikawal secara ketat.
Persis Solo sendiri saat ini sedang berada dalam tekanan untuk memperbaiki posisi di klasemen. Keharmonisan antara manajemen, pemain, dan suporter dianggap sebagai kunci utama bagi Laskar Sambernyawa untuk meraih hasil positif dalam laga-laga mendatang di Stadion Manahan.