Pemilik iPhone 16 dan iPhone 15 Pro di Amerika Serikat akan menerima kompensasi setelah Apple sepakat membayar 250 juta dolar AS dalam gugatan class action. Perusahaan dinilai menyesatkan konsumen terkait peluncuran Siri berbasis kecerdasan buatan yang tak kunjung terealisasi hingga awal 2025. Kesepakatan ini menjadi pukulan telak bagi kredibilitas pemasaran fitur Apple Intelligence yang menjadi jualan utama perangkat terbaru mereka.
Apple akhirnya menyerah dalam pertarungan hukum terkait janji manis fitur kecerdasan buatan (AI) pada perangkat terbarunya. Raksasa teknologi asal Cupertino ini menyetujui penyelesaian gugatan senilai 250 juta dolar AS atau setara Rp 4 triliun. Dana fantastis tersebut dialokasikan untuk meredam kekecewaan pengguna yang merasa tertipu oleh kampanye pemasaran Siri versi terbaru yang lebih personal dan cerdas.
Langkah hukum ini berawal dari gugatan kelompok di California yang menuding Apple melakukan praktik dagang tidak jujur. Para pembeli iPhone 16 series dan iPhone 15 Pro merasa dikhianati karena fitur Siri yang dijanjikan meluncur pada 2024 ternyata mengalami penundaan berkali-kali. Meski membayar ratusan juta dolar, Apple tetap bersikukuh tidak mengakui adanya kesalahan prosedur atau penipuan dalam iklan mereka.
Masalah bermula saat ajang WWDC 2024, ketika Apple memamerkan Siri yang mampu memahami konteks di dalam layar dan melakukan tindakan otomatis antar aplikasi. Fitur ini dijual sebagai nyawa dari Apple Intelligence. Faktanya, hingga Maret 2025, kemampuan tersebut tidak pernah sampai ke tangan pengguna. Apple justru baru mengakui penundaan fitur inti ini lima bulan setelah iPhone 16 resmi dijual di pasar global.
Selama periode peluncuran, Apple gencar menayangkan iklan yang menampilkan kecanggihan Siri berbasis AI. Namun, setelah pengumuman penundaan resmi keluar, perusahaan diam-diam menarik semua materi promosi tersebut. Bagi para analis, ini adalah bukti kegagalan Apple dalam menyelaraskan ambisi perangkat lunak dengan jadwal rilis perangkat keras mereka.
Kompensasi finansial ini akan dibagikan kepada para pembeli di Amerika Serikat yang masuk dalam kriteria kelas penggugat. Meskipun jumlah per individu mungkin tidak sebanding dengan harga ponsel, nominal total 250 juta dolar AS merupakan salah satu penyelesaian kasus fitur perangkat lunak terbesar yang pernah dihadapi Apple.
Kegagalan Apple mengembangkan AI secara mandiri memaksa mereka mengambil langkah yang sebelumnya dianggap mustahil. Apple kini secara resmi menggandeng Google untuk menggunakan model bahasa besar Gemini guna memperkuat Siri. Kemitraan ini menunjukkan bahwa teknologi internal Apple belum mampu mengejar ketertinggalan dari kompetitor seperti OpenAI atau Google di ranah AI generatif.
Rencana terbaru menyebutkan bahwa Siri yang benar-benar "pintar" baru akan tersedia pada pembaruan iOS 27 mendatang. Jadwal ini meleset hampir dua tahun dari janji awal perusahaan. Pengguna harus menunggu lebih lama untuk merasakan integrasi ChatGPT dan kemampuan penyuntingan gambar tingkat lanjut yang sempat dipamerkan dalam demo-demo awal mereka.
Keterlambatan ini menjadi catatan penting bagi industri teknologi. Pemasaran fitur berbasis AI yang masih dalam tahap pengembangan (vaporware) berisiko membawa konsekuensi hukum yang mahal. Bagi konsumen di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat untuk tetap skeptis terhadap janji fitur perangkat lunak yang belum tersedia saat hari peluncuran produk.
Selama satu dekade terakhir, Apple dikenal sangat protektif terhadap ekosistemnya dan jarang bergantung pada pihak ketiga untuk fitur inti. Keputusan menggunakan Google Gemini untuk menyelamatkan Siri adalah pengakuan implisit bahwa mereka kalah dalam perlombaan AI. Payout sebesar 4 triliun rupiah ini bukan hanya soal kerugian uang, melainkan soal hilangnya kepercayaan pada label "Apple Intelligence".
Langkah Apple berikutnya akan sangat krusial. Jika iOS 27 kembali gagal memberikan pengalaman Siri yang dijanjikan, dampak jangka panjangnya bisa menggerus loyalitas pengguna iPhone. Pasar kini tidak lagi hanya melihat kemewahan desain fisik, melainkan seberapa cerdas otak virtual di dalam ponsel yang mereka beli dengan harga premium.