Rusia Desak AS Evakuasi Diplomat dari Kyiv, Ancaman Serangan ke Pusat Pengambilan Keputusan Menguat

Penulis: Rendi Kusuma  •  Selasa, 26 Mei 2026 | 12:11:01 WIB
Menlu Rusia Lavrov mendesak AS evakuasi diplomat dari Kyiv terkait ancaman serangan.

JAWA TENGAH — Langkah diplomatik ini merupakan eskalasi tekanan Rusia terhadap Ukraina dan sekutunya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa, Kementerian Luar Negeri Rusia mengonfirmasi bahwa Lavrov secara spesifik merujuk pada rekomendasi evakuasi yang telah dikeluarkan pihaknya pada 25 Mei lalu.

Ancaman Militer Berlapis: dari Rudal Hipersonik hingga Serangan Balasan

Tekanan diplomatik itu datang berbarengan dengan gelombang serangan udara masif. Sepanjang akhir pekan, Rusia meluncurkan puluhan drone dan rudal ke berbagai wilayah Ukraina, menewaskan empat orang dan melukai puluhan warga sipil. Salah satu senjata yang digunakan adalah rudal hipersonik Oreshnik, yang menurut Moskow mampu melaju 10 kali kecepatan suara dan dapat membawa hulu ledak nuklir.

Serangan itu disebut sebagai balasan atas tuduhan Rusia bahwa Ukraina menyerang sebuah sekolah kejuruan di wilayah Luhansk yang diduduki Rusia, yang menewaskan 21 orang. Presiden Vladimir Putin, menurut pernyataan Kremlin, telah memerintahkan militer untuk membalas secara langsung.

Ultimatum Berulang dan Sikap Ukraina yang Tak Gentar

Ini bukan pertama kalinya Rusia meminta warga asing meninggalkan Kyiv. Awal bulan ini, Moskow mengeluarkan peringatan serupa ketika mengancam serangan besar-besaran jika Ukraina mengganggu parade militer di Lapangan Merah. Kali ini, Lavrov secara khusus menyasar Amerika Serikat dalam panggilan telepon langsung dengan Rubio, menandakan adanya jalur komunikasi yang tetap terbuka di tengah konflik.

Menlu Ukraina Andrii Sybiha menolak mentah-mentah ancaman tersebut. “Kami sekarang memberi tahu mitra kami bahwa mereka tidak boleh menyerah pada semua pemerasan Rusia ini,” katanya, menggambarkan peringatan Moskow sebagai “retorika” belaka.

Pernyataan Sybiha mengindikasikan bahwa Kyiv yakin Rusia tidak akan serta-merta melancarkan serangan skala penuh ke pusat kota hanya karena diplomat asing masih berada di sana. Namun, desakan langsung dari Menlu Lavrov ke Washington menunjukkan bahwa Kremlin serius ingin membersihkan zona target mereka dari personel asing sebelum gelombang serangan berikutnya.

Implikasi: Titik Terendah Hubungan Rusia-AS?

Panggilan telepon Lavrov-Rubio sendiri merupakan kontak langka di tingkat menteri luar negeri antara kedua negara yang sedang berseteru. Fakta bahwa isi pembicaraan justru soal evakuasi diplomat—bukan gencatan senjata atau negosiasi damai—menunjukkan betapa dalamnya jurang komunikasi yang ada. Bagi pengamat, langkah ini bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Rusia sedang mempersiapkan operasi militer besar yang tidak ingin disaksikan langsung oleh mata-mata asing di Kyiv.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kedutaan Besar AS di Ukraina mengenai apakah mereka akan mematuhi desakan evakuasi tersebut.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top