Pencarian

Startup Putri Bill Gates Kena Tuduhan Cookie Stuffing, Pendapatan Phia Anjlok 87 Persen

Jumat, 14 Agustus 2026 • 08:54:01 WIB
Startup Putri Bill Gates Kena Tuduhan Cookie Stuffing, Pendapatan Phia Anjlok 87 Persen
Pendapatan harian Phia anjlok hingga 87 persen setelah fitur cookie stuffing dinonaktifkan pada 7 Juli.

JAWA TENGAH — Masalah hukum menimpa Phia, startup asisten belanja digital senilai miliaran dolar yang didirikan Phoebe Gates (23) dan Sophia Kianni, alumni Stanford. Perusahaan dituduh menjalankan praktik cookie stuffing—teknik menanam cookie pelacak secara paksa ke perangkat pengguna tanpa sepengetahuan mereka—untuk menggelembungkan klaim komisi dari mitra ritel seperti Nike, Gap, dan Nordstrom.

Praktik ini berlangsung setidaknya sejak Desember tahun lalu dan disebut menjadi penyumbang terbesar pendapatan Phia. Data internal yang bocor ke Bloomberg menunjukkan pada Juni lalu, cookie stuffing menyumbang sekitar 51 persen dari total nilai barang yang diklaim Phia sebagai hasil penjualannya.

Dampak Finansial dan Potensi Hukuman

Setelah fitur bermasalah itu dinonaktifkan pada 7 Juli, pendapatan harian rata-rata Phia anjlok drastis. Sebelumnya perusahaan mengantongi sekitar USD 80.000 per hari, kini hanya berkisar antara USD 10.000 hingga USD 28.000—penurunan hingga 87 persen.

Juru bicara Phia membantah analisis tersebut. Mereka mengklaim penurunan pendapatan lebih disebabkan oleh penghentian sebagian besar upaya monetisasi secara bersamaan, bukan semata-mata karena cookie stuffing.

Meski begitu, konsekuensi hukum tetap mengancam. Ariel Givner, pendiri dan pengacara utama Givner Law, menyebut cookie stuffing bisa dikategorikan sebagai penipuan elektronik federal di pengadilan AS. "Ada kemungkinan hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara ditambah denda/restitusi," ujarnya.

Kronologi dan Respons Perusahaan

Phia beroperasi sebagai ekstensi browser yang membantu pengguna menemukan kode diskon saat checkout. Saat pembeli memilih kupon, perangkat lunak tersebut menjatuhkan cookie untuk melacak aktivitas dan membuktikan ke pengecer bahwa Phia berperan mendorong penjualan—dengan begitu perusahaan mendapat komisi.

Masalahnya, Phoebe dan Kianni disebut sudah mengetahui selama tujuh bulan bahwa ada fitur yang menjatuhkan cookie bahkan ketika pelanggan tidak menggunakan Phia. Fitur ini baru dihapus pada 7 Juli lalu.

"Setiap fitur yang menyebabkan salah atribusi segera dihapus lebih dari sebulan lalu. Kami sedang meninjau tiap transaksi, kami berkomitmen penuh dan mulai pengembalian dana ke mitra merek sebagai akibat dari salah atribusi apa pun dan kami mempekerjakan Head of Compliance untuk memastikan hal seperti ini tak pernah terjadi lagi," sebut jubir Phia.

Dana Besar di Balik Startup

Kontroversi ini mencoreng reputasi Phia yang baru saja mengumpulkan dana segar USD 30 juta (sekitar Rp 480 miliar) pada 2025. Investor ternama ikut mendanai startup ini, termasuk Hailey Bieber, Kris Jenner, dan pendiri Spanx, Sara Blakely.

Bagi pengguna Indonesia yang kerap memakai layanan cashback atau reward serupa, kasus ini menjadi pengingat bahwa praktik pelacakan cookie di balik layar bisa berujung pada masalah etika dan hukum. Regulasi perlindungan data di Indonesia, seperti UU PDP, juga semakin ketat mengawasi praktik semacam ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Phoebe Gates maupun Sophia Kianni secara pribadi. Phia sendiri mengaku tengah meninjau seluruh transaksi dan berjanji melakukan pengembalian dana kepada mitra merek yang terdampak salah atribusi.

Follow jatenglink.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: inet.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks