KLATEN — Prosesi penyembelihan hewan kurban di SMA Negeri 3 Klaten menjadi momen edukasi langsung bagi para pelajar. Tidak sekadar ritual tahunan, sekolah sengaja merancang kegiatan ini sebagai laboratorium pembelajaran ibadah kurban bagi siswa.
Menurut Sutrisno, momentum Idul Adha dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan sejak dini. Para siswa tidak hanya menyaksikan, tetapi juga dilibatkan dalam proses pendistribusian daging kurban ke warga sekitar sekolah dan masyarakat yang membutuhkan.
“Kami ingin anak-anak merasakan langsung bagaimana proses berkurban, dari penyembelihan hingga pembagian. Ini pengalaman nyata yang tidak bisa didapatkan dari teori di kelas,” ujar Sutrisno saat ditemui di lokasi, Senin (17/6).
Rangkaian acara tidak berhenti pada penyembelihan hewan. Sekolah juga menggelar Jumat Imtaq yang diisi dengan tadarus Al-Qur’an bersama dan tausiah keagamaan. Kegiatan ini menjadi rutinitas pekanan yang diperkuat di momen Idul Adha.
Kolaborasi antara ibadah kurban dan pembiasaan spiritual ini dinilai efektif membentuk karakter religius siswa di tengah gempuran pengaruh eksternal. Sekolah menargetkan kegiatan serupa bisa menjadi agenda tetap setiap tahun.
Panitia kurban SMAN 3 Klaten tahun ini mengumpulkan satu ekor sapi dan beberapa ekor kambing dari partisipasi guru, karyawan, dan orang tua siswa. Daging kurban didistribusikan ke panti asuhan, warga kurang mampu di sekitar kelurahan, serta keluarga siswa yang membutuhkan.
Proses pendataan penerima dilakukan oleh tim OSIS dan guru pembina, sehingga siswa terlibat langsung dalam manajemen distribusi. Hal ini menjadi pelajaran berharga tentang tata kelola amal dan transparansi sejak usia sekolah.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari wali murid dan masyarakat sekitar. Beberapa orang tua menyebut anak mereka menjadi lebih antusias mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah. Sutrisno berharap, kebiasaan berkurban dan berbagi ini bisa terus tumbuh meski siswa telah lulus dari SMAN 3 Klaten.
“Kami tidak hanya mengejar nilai akademik. Karakter dan kepekaan sosial adalah bekal utama yang harus dimiliki siswa,” pungkasnya.