JAWA TENGAH — Dari total dividen yang dikucurkan, sekitar Rp 17,8 triliun berasal dari laba bersih yang diraih Telkom sepanjang 2025. Sisanya, Rp 4,2 triliun, diambil dari laba ditahan tahun sebelumnya. Dengan nilai ini, rasio pembayaran dividen mencapai 123,03 persen dari laba bersih tahun lalu. Manajemen Telkom memastikan pembayaran akan dilakukan paling lambat 10 Juli 2026.
Keputusan membagikan dividen besar ini diambil di tengah tekanan kinerja keuangan. Sepanjang 2025, laba bersih Telkom tercatat Rp 17,81 triliun, turun 20,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 22,40 triliun. Pendapatan perusahaan juga ikut terkoreksi 2,15 persen secara tahunan menjadi Rp 146,74 triliun.
Meski begitu, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menegaskan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga. "Di tengah tekanan industri dan berbagai ketidakpastian sepanjang 2025, Telkom tetap mampu memperkuat arus kas. Keputusan pemegang saham hari ini mencerminkan kepercayaan terhadap transformasi yang kami bangun," ujarnya dalam keterangan resmi.
Selain dividen, RUPST juga menyetujui rencana pembelian kembali (buyback) saham perseroan dengan nilai maksimal Rp 4 triliun. Aksi korporasi ini bisa dilakukan di bursa efek maupun di luar bursa, secara bertahap atau sekaligus, dalam periode 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Manajemen menyebut buyback sebagai strategi meningkatkan nilai pemegang saham dan menjaga stabilitas harga saham.
Namun, di hari yang sama dengan pengumuman ini, saham TLKM justru ambrol. Harga saham anjlok 14,86 persen ke level Rp 2.350 per saham, menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Volume perdagangan tercatat 331,95 juta lembar saham dengan nilai transaksi Rp 810,05 miliar. Kapitalisasi pasar Telkom pun menyusut menjadi Rp 232,80 triliun. Dalam sepekan, saham TLKM sudah terperosok 22,44 persen, dan secara year to date merosot 32,47 persen.
Penurunan harga saham ini menjadi sinyal bahwa investor mungkin kecewa dengan prospek jangka pendek, meskipun dividen jumbo dan buyback digelontorkan. Kinerja keuangan yang menurun dan tekanan industri telekomunikasi menjadi beban utama yang membayangi langkah Telkom ke depan.