Lirik Lagu Slank "Rusak Ancur" Kritik Tambang hingga IKN, Warganet Sebut Sindiran ke Pemerintah Makin Terang-terangan

Penulis: Puguh Triyono  •  Senin, 08 Juni 2026 | 21:03:31 WIB
Slank meluncurkan lagu "Rusak Ancur" yang mengkritik kebijakan lingkungan dan pembangunan pemerintah.

JAWA TENGAH — Jakarta – Band Slank kembali menjadi pusat perbincangan di jagat maya bukan karena konser atau personelnya, melainkan lewat lirik lagu terbaru yang secara eksplisit menyasar sejumlah kebijakan pemerintah. Lagu berjudul “Rusak Ancur” yang masuk dalam album Republik Fufufafa itu ramai dibagikan dan dikomentari oleh warganet, pegiat lingkungan, hingga akademisi kebijakan publik sejak pekan lalu.

Ekspor Pasir Laut hingga Food Estate Jadi Sasaran Lirik

Lagu ciptaan Bimbim tersebut memuat setidaknya enam isu lingkungan dan tata kelola sumber daya alam yang tengah hangat diperdebatkan. Bait pertama secara gamblang menyebut praktik pengerukan sedimen yang dikirim ke Singapura dan ekspor pasir laut yang dinilai memperparah abrasi pulau-pulau kecil di Indonesia.

“Babat hutan ganti sawit / Ekosistem rusak hewan menjerit,” demikian sepenggal lirik yang dikutip dari unggahan resmi Slank. Tidak berhenti di situ, Slank juga menyoroti pembagian izin tambang yang masif, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), hingga proyek food estate yang disebut “bikin bingung” karena hasil panen tidak sesuai dengan tanaman yang direncanakan.

Dari Donggala ke IKN: Kritik Material Proyek Strategis

Salah satu bagian yang paling banyak disorot adalah lirik yang menyebutkan bahan bangunan IKN diambil dari Donggala, Sulawesi Tengah. “Bahannya ambil dari Donggala / Jadi rusak bukit-bukit jalan berdebu,” tulis Slank, merujuk pada aktivitas tambang material yang disebut-sebut memicu polusi dan banjir bandang di daerah asal.

Pernyataan itu langsung memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian netizen menilai lirik tersebut akurat menggambarkan dampak lingkungan yang tidak diimbangi tata kelola ketat. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) maupun Otorita IKN terkait klaim tersebut.

Slank Kembali ke Identitas Kritik Sosial, Aktivis Lingkungan Beri Dukungan

Koordinator Aliansi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekologis, Fajar Nugraha, menilai lagu “Rusak Ancur” membuktikan bahwa Slank masih memegang perannya sebagai pengkritik kebijakan yang tidak populis. “Ini bukan soal setuju atau tidak dengan pembangunan, tapi soal transparansi dan dampak yang langsung dirasakan warga di lokasi tambang dan proyek,” ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (21/5).

Fajar menambahkan, lirik yang menyebut “Mega proyek food estate bikin bingung” mencerminkan kegagalan koordinasi lintas sektor yang sudah lama dikeluhkan petani di lapangan. “Menanam singkong, panen jagung. Itu bukan lelucon, itu realita di beberapa lokasi proyek pangan nasional,” katanya.

Viral di Tengah Isu Ekonomi, Warganet Kaitkan dengan Kurs Dolar

Lagu ini menjadi viral di saat yang bersamaan dengan isu pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Bimbim Slank sendiri dalam beberapa kesempatan sebelumnya telah menyindir kondisi ekonomi nasional yang disebutnya mengingatkan pada krisis 1998. Meski tidak secara langsung disebut dalam lirik, warganet banyak yang mengaitkan kemunculan lagu ini sebagai respons terhadap situasi politik dan ekonomi yang memanas.

Hingga berita ini ditulis, lagu “Rusak Ancur” telah ditonton lebih dari 2 juta kali di platform YouTube dan menjadi topik utama di linimasa X (dulu Twitter) dengan tagar #SlankRusakAncur.

Reporter: Puguh Triyono
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top