SOLO — Angka partisipasi siswa di PKBM Bunga Kantil, Solo, menjadi perhatian serius pihak pengelola. Evaluasi berkala menunjukkan sejumlah peserta didik memilih berhenti setelah hanya mengikuti satu atau dua kali pertemuan tatap muka.
Kelas Barista Jadi Umpan Awal
Untuk mengatasi hal itu, PKBM Bunga Kantil merancang pendekatan yang tidak biasa. Mereka membuka kelas keterampilan praktis seperti meracik kopi atau barista sebagai daya tarik awal bagi calon siswa.
Pendekatan ini dinilai lebih efektif ketimbang langsung menyodorkan materi akademik yang kerap membuat siswa enggan kembali. Kelas barista menjadi jembatan agar mereka tertarik hadir dan kemudian mengikuti program kesetaraan.
Jaminan Penyaluran Kerja ke Pabrik Roti
Tak hanya sekadar belajar, PKBM juga menjalin kemitraan dengan sejumlah industri, salah satunya pabrik roti di wilayah Solo Raya. Siswa yang telah menyelesaikan program keterampilan akan langsung disalurkan kerja.
Kepastian adanya penyaluran tenaga kerja ini menjadi nilai jual utama. Bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu, jaminan mendapatkan penghasilan setelah lulus menjadi motivasi kuat untuk bertahan mengikuti pembelajaran hingga tuntas.
Mengapa Siswa Bertahan Hanya Dua Pertemuan?
Dari hasil evaluasi, faktor ekonomi menjadi penyebab dominan. Banyak siswa putus sekolah yang harus bekerja membantu orang tua, sehingga waktu belajar menjadi terbatas. Jika tidak ada insentif atau jaminan langsung, mereka cenderung memilih keluar.
Strategi PKBM Bunga Kantil ini mencoba menjawab persoalan klasik tersebut. Dengan menggabungkan pendidikan kesetaraan dan pelatihan vokasi yang terikat dengan industri, pihak sekolah berharap angka retensi siswa bisa meningkat secara signifikan.