KLATEN — Warga dan pegiat sejarah Klaten digegerkan dengan penemuan batu lingga bertuliskan aksara Jawa kuno di gang buntu permukiman padat penduduk. Batu andesit setinggi 82 sentimeter dengan lebar 35 sentimeter itu ditemukan tergeletak di antara rumah warga dan area parkir Masjid Al-Muttaqien, Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan.
Epigraf Goenawan A Sambodo yang dimintai konfirmasi, Minggu (14/6/2026), menyebut lingga tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-9 Masehi. "Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata Goenawan.
Goenawan mengaku sudah mencoba membaca prasasti yang dipahatkan pada bagian atas lingga dengan panjang setengah lingkaran batu tersebut. Kalimat yang terbaca sementara adalah 'Palyangan'. "Untuk aksara Jawa kuno, terbaca sementara seperti yang sudah ditulis Mas Yoan (pegiat sejarah Klaten) di Facebooknya. Artinya belum pasti masih dalam proses pencarian," terang Goenawan.
Pegiat sejarah Klaten, Yohanes Sudaryanto, atau akrab disapa Yoan, mengonfirmasi bacaan tersebut. Menurut Yoan, kata 'Palyangan' kemungkinan besar merujuk pada nama sebuah wilayah. "Palyangan, mungkin nama sebuah wilayah, mungkin ya," ungkap Yoan.
Yoan menjelaskan, dalam bahasa Sansekerta, kata 'Palyangan' tidak ditemukan sebagai kosakata baku yang memiliki arti tunggal. Istilah ini lebih sering merujuk pada kosakata lokal atau serapan dalam budaya Jawa. "Dalam sistem agraria tradisional di Jawa, istilah Playangan (atau Palyangan) merujuk pada jenis tanah pertanian komunal milik desa yang digarap oleh warga setempat secara bergilir atau tetap," imbuh Yoan.
Analis cagar budaya dan koleksi museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, mengungkapkan pihaknya langsung menindaklanjuti laporan warga. "Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti," terang Wiyan di lokasi, Sabtu (13/6/2026).
Saat tim tiba, posisi lingga terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan, barulah aksara kuno itu terlihat. "Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca," papar Wiyan.
Wiyan menambahkan, di tepi jalan depan masjid juga diduga terdapat Yoni yang saat ini masih terpendam. "Kondisi tulisan atau aksara masih bagus dan terbaca. Namun untuk memastikan hurufnya jenis apa, tahunnya berapa, isinya prasasti, mantra atau apa kita akan berkoordinasi dengan epigraf," imbuhnya.