JAWA TENGAH — Pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6). Dalam sambutannya, Prabowo menyebut kunjungan ini memiliki arti yang sangat penting bagi Indonesia dan menjadi bukti eratnya hubungan kedua negara.
"Saya menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada Presiden Steinmeier atas kunjungannya kembali ke Indonesia. Ini kehormatan besar bagi kami," kata Prabowo.
Prabowo menjelaskan, kunjungan Steinmeier sekaligus menandai dimulainya rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jerman pada 2027 mendatang. Ia menekankan bahwa hubungan yang sudah berjalan lebih dari tujuh dekade ini perlu terus diperkuat di tengah situasi global yang tidak menentu.
"Penguatan dan keberlanjutan kemitraan Indonesia dan Jerman tentunya menjadi prioritas," ujarnya.
"Kunjungan ini juga mengawali peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jerman pada tahun 2027 yang akan datang," lanjut Prabowo.
Pertemuan kedua kepala negara berlangsung di saat dunia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik hingga tekanan ekonomi. Dalam konteks inilah, Prabowo menilai kunjungan Steinmeier menjadi momentum penting untuk memperkokoh kemitraan strategis.
Meski pernyataan resmi belum merinci sektor-sektor spesifik yang dibahas, pertemuan ini menjadi sinyal bahwa Jakarta dan Berlin berkomitmen menjaga stabilitas hubungan bilateral jangka panjang. Jerman selama ini menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia di Eropa, dengan investasi di sektor manufaktur, energi, dan teknologi.
Kunjungan Steinmeier ke Jakarta merupakan bagian dari rangkaian lawatan ke sejumlah negara kawasan. Bagi Indonesia, kunjungan kepala negara Jerman ini menjadi agenda diplomatik penting setelah beberapa tahun terakhir hubungan kedua negara sempat terhambat pandemi.
Pemerintah Indonesia belum merilis rincian kesepakatan atau nota kesepahaman yang ditandatangani dalam pertemuan tersebut. Namun, penguatan kerja sama di bidang ekonomi hijau, transformasi digital, dan pendidikan tinggi disebut-sebut sebagai agenda prioritas dalam forum-forum bilateral sebelumnya.