JAWA TENGAH — Kelelahan digital yang meluas memicu pergerakan konsumen untuk kembali ke teknologi yang lebih sederhana. Joy Howard, CMO Back Market (pasar barang elektronik rekondisi), menyebut fenomena ini sebagai slow tech. "Orang-orang sudah sangat jenuh dan terstimulasi berlebihan. Mereka benar-benar ingin memiliki pendekatan yang lebih sadar terhadap teknologi," ujar Howard kepada TechCrunch.
Back Market bahkan berani memasang iklan premium iPod Shuffle di stasiun subway New York yang sibuk. Menurut Howard, permintaan untuk perangkat yang dianggap usang ini terus tumbuh. "Jika perangkat ini tidak mendorong penjualan, kami tidak akan mengeluarkan uang untuk iklan tersebut," tegasnya.
Bagi generasi yang lahir di era media sosial, pesona perangkat retro seperti headphone kabel, kamera digital saku, konsol game jadul, dan CD justru terasa segar. Perangkat-perangkat ini tidak dirancang untuk memonopoli perhatian pengguna. Kamera jadul tidak bisa langsung mengunggah foto ke Instagram, konsol retro tidak membombardir pemain dengan iklan judi, dan iPod tidak memutar lagu berdasarkan algoritma.
"Fast tech selama ini bertujuan menghilangkan gesekan. Sekarang, orang justru melihat gesekan sebagai cara untuk menciptakan batasan," kata Howard. Ia mengaku terkejut melihat konsumen kini menginginkan hambatan kembali dan menganggapnya sebagai fitur, bukan cacat desain.
Austin Murray, pendiri JAMDAT (salah satu perusahaan game ponsel pertama yang dijual ke EA senilai USD 680 juta), kini justru membangun aplikasi pengurang waktu layar bernama MOQA. "Melihat apa yang terjadi pada anak-anak saya dan orang-orang di sekitar saya sungguh menyakitkan," aku Murray. Baginya, rata-rata waktu layar 5 jam per hari bukan masalah kemauan, melainkan masalah desain produk.
Data menunjukkan sekitar 53% orang dewasa di Amerika Serikat ingin mengurangi waktu layar mereka. Calvin Kasulke, penulis novel Several People Are Typing, bahkan berlangganan dua aplikasi pembatas waktu (Opal dan Freedom) untuk mengendalikan kebiasaan doomscrolling-nya. "Saya tidak perlu membatasi waktu pakai iMessage—itu orang yang saya kenal! Tapi saya pasti tidak ingin membuang waktu untuk scroll tanpa tujuan," katanya.
Beberapa konsumen memilih langkah lebih ekstrem dengan meninggalkan iPhone dan beralih ke ponsel lipat (flip phone), perangkat e-ink berbasis Android, atau ponsel minimalis seperti Light Phone. Kaiwei Tang, salah satu pendiri Light, mengklaim pelanggan mereka merasa lebih bebas setelah beralih ke perangkat tersebut. "Pelanggan kami selama 10 tahun terakhir mengatakan mereka merasa lebih bebas setelah beralih ke Light Phone," ujarnya.
Fenomena ini mengingatkan pada ironi yang dialami Tony Fadell. Di stasiun kereta, ia melihat pengguna modern dengan headphone nirkabel mengakses jutaan lagu—sebuah kemewahan yang membuat tagline iPod jadul "seribu lagu di saku" terdengar kuno. Namun, justru di tengah hiruk-pikuk konektivitas tanpa batas itulah, perangkat sederhana seperti iPod Shuffle menemukan relevansinya kembali.